Saturday, November 24, 2007

Antri

I am an Indonesian, born and breed in Indonesia where eventually posses all Indonesian typical behaviour. Indonesian behaviour, hmm where do I start ?. Never use proper crossing area when crossing a street, never able to understand when there’s a green light on a junction it means you are NOT allowed to cross it, or practice bumper to bumper driving skill, or hmm the nearest trash bin is the location where you feel like it.

But there’s something that funny that I found on a particular behaviour, that we always practice it when we are in overseas and suddenly drop it when the plane landed in Airport.

That is queue behaviour.

It is time wasting practice but this a fair and proper way to do things. I see Indonesian queue patiently while waiting for imigration clearance or waiting the luggage to be scanned by the scanning machine. But that is when they are in Singapore or Malaysia or any other country.

Good practice, and I tend to believe they do it because they have to. This another playgroudn not like in Indonesia.

I feel like wramth covering me, when I enter the imigration process in Indonesia. Some middle ages women, just simply cutting the lines, something I cant held my anger, and I shout to them to move there.. Can they see that there’s 50 people they want to cut and this 50 people were already waited for like half an hour ?.

Another things happen when I queue for my luggage to be scanned, the line was long and I think it was around 50 meter line. When suddenly out of the blue, this family (father, wife and their two small children), just cut the line behind me of me. The lady they plan to ambush just keep quite.

“ Excuse me, can you see there’s a line of queueing here? Take the queue like everybody else ?” I said.

“ Why are you complaining ? We are not cutting your line? “ innocently the father response.

That’s it, I had enough of this.

“ Cant you these people are queueing and you just strolled in cutting the line?, Why you can queue in another people country and not do it in here? What makes you think that you have priviliges to step ahead other people rights ?”

I said loud to the guy face.

“ Yeach..yeach…queue man…” a large boo coming from people behind me.

The father looks redfaced while his children were looking up to him. Finally he move the last line. I knew he felt embarrased when this happen in front of his children, but it should never be happen in the first place if he willing to do it right from the start. Beside, cutting a line, is it a kind of behaviour that you demonstrate and presumably expect to be followed by your children ?

Sigh…another angry blog that I made.

Shoes


Ok, aku harap ini satu-satu nya posting gue yang membahas soal sepatu wanita.

Ada fenomena menarik yang gue lihat minimal di kalangan wanita Indonesia, atau Jakarta ya ?, yang tergila-gila dengan sepatu vincci. Ada temen dari kantor jakarta, yang sudah hampir 1 bulan di KL, dan tidak jalan kemana-mana, dan begitu ngajak gue jalan minta langsung di ajak ke counter vincci. Oh ok I thought, mungkin ada sepatu yang di inginkan ama temen ini.
But no, aku salah besar. Kata yang tepat untuk menggambarkan temen ini, adalah maniak vincci ?, gimana enggak, begitu keluar dari gerai vincci (setelah basically cuekin gue selama 1.5 jam-gue sempet2nya makan, jalan2, nyoba2 baju baru, nanya-nanya henpon etc), sang temen dengan muka cerah dan bangga, keluar sambil menenteng 4 (yes, EMPAT !!) pasang sepatu vincci.

OK, maybe I have a weird friend here.

Tapi seminggu kemudian, mbak "L", mengemail gue, lengkap dengan foto-foto details dan ukuran sepatunya dia, meminta gue yg kebetulan lagi mau pulang balik ke jakarta untuk membelikan dia 3 pasang sepatu vincci lagi.

Tapi ini bukan alasan gue nulis blog ini.
Alasan utamanya adalah, aku barusan ketemu ama 3 orang cewek (gue rasa either thailand atau filipino), yang masing-masing membawa 3 pair sepatu vincci.

Hmmmm,.......

Let me count how many shoes I have:
1 pasang sepatu resmi ngantor
1 pasang sepatu kasual
2 pasang sepatu sport
1 pasang sepatu safety.

5 pair of shoes selama 2 tahun. And these girls just bought 3 pairs in just a single visit to the store.....


Woman are really coming from Venus.

Friday, November 23, 2007

Makan Enak di Bali

Tulisan ini gue dedikasikan untuk penggemar makanan yang mungkin lagi nge plan liburan di bali dan bingung mesti makan dimana yang enak di bali. Oke gue urut tempat2 makan ini tanpa ada pake urutan yang mana yang lebih enak.

1. Warung Babi Guling Ibu Oka - Ubud.

Dengan menu andalan Babi Guling (mungkin karena kalau kambing guling gampang, tinggal ke kawinan orang2 ajah), Warung Ibu Oka ini bener-bener mesti coba kalau ke bali. Pesan menu special (berisi sepiring nasi yg di atas nya di kasih babi guling, kulit babi guling, sosis bali- gue rasa isinya kaya dalaman bali-, sayur nangka atau lawar) dan segelas es jeruk, bener-bener pilihan yang tepat di siang-siang yang panas. Rasa nya...bener sedap dap dap !!.
Suasana warung nya sendiri sih emang buat makan doang, bukan buat nyantai, soalnya penuh banget gitu. Cuman unik ajah sih, soalnya berada di bawah pohon beringin gitu.

Lokasi warung babi guling ini ada di pusat ubud, di deket pura utama gitu. Tanya ama orang2 ajah deh how to get there.
Harga terjangkau, sekitar 30 ribuan per orang.




2. Bebek Bengil-Ubud.

Menu favorit disini adalah bebek goreng, yang enggak tahu cara masaknya cuman rasanya renyah dan gurih banget gitu. Terus sambel nya juga pas banget untuk di aduin ama bebek nya.
Porsinya juga cukupan dan bisa di makan ama seorang cewek.Harga nya sekitar 60ribuan.

Cuman iga babi nya bener-bener mesti di cobain. Bumbu dan cara masaknya bener-bener pas dan rasa nya bener-bener nikmat. Walaupun harganya cukup mahal (140rebuan) cuman dengan rasa yang sebanding dengan iga babi di tony romas ( yang hampir 400an) dan porsinya yang buanyak (gue mesti ampe istirahat dulu pas mau makan).

Kondisi restoran nya pun okay, terletak di pinggir jalan dengan latar belakang sawah-sawah yang menghijau dan di hiasi oleh bebek-bebek yang kadang berkeliaran ( kemungkinan sih korban dapur bebek bengil yang berhasil kabur hehehe).


3. Jazz Cafe -Ubud.

Makanan disini sih biasa banget, dengan menu di beratin ke makanan barat. Cuman suasananya enak ajah, soalnya ada musik jazz gitu malam-malam yang enak di dengerin di tengah keheningan ubud.












4. Bali Tekor - Seminyak

Ini terletak di jalan double six, seaside view. Aku awal sih mikirnya mahal banget bakalan tempat ini, cuman ternyata enggak. Mesti nyobain makanan laut nya, dengan spesialisasi di ikan tekor (masak bumbu bali), rasa nya bener- bener sedap gitu. Makanan nya barat nya juga gak kalah sedap nya.

Oh iya, deket situ, biasanya ada orang-orang yang pake motor terus jualan buku-buku bekas barat gitu. Lumayan murah sekitar 30-50 rebu gitu. Inget mesti nawar ampe 50pct, terus kabur ajah kalau dia gak mau.






5. Nyoman beer garden

Terletak di nusa dua, di antara jajaran restoran-restoran yang hampir setengah nya tutup (impact karena bom bali?...sedih juga kalau sebab nya karena itu). Restoran ini awal-awal aku pikir cuman watering hole gitu yang biasanya makanannya gak enak. Cuman ternyata pas nyobain makanan nya wah...enak bow.
Ada tulisan gitu di menu, kalau resto ini merupakan jaring restoran yang didirikan oleh koki jerman yang udah jalan2 keliling dunia, dan akhirnya bosan dan buka restoran sendiri di bali.

Hmm... seluruh resto yang gue sebut di atas sih, bisa liat lokasi nya kalau kamu beli lonely planet bali & lombok.

Nikah


Mengenal seseorang selama 10 tahun dan berpacaran dengan dia selama 3 tahun, terkadang membuat kita yakin bahwa kita kenal orang tersebut luar dalam dan bagaimana sikap kita terhadap dia.
Namun menikah dengan dia, membuat perasaan ku terasa berubah. Cara memandang nya dia pun terasa berbeda, rasanya dia sebuah harta yang mesti aku sayangin dan mesti aku lindungin, dan terutama mesti aku bahagiakan.

Hampir 10 hari bulanmadu, dan raut muka yang tenang-tenang saja sewaktu melepas dia di Bandara, perasaan ku terasa ada yang hilang begitu aku pulang ke apartment dan tidak menemukan dia kamar tidur...tidak menemukan dia dikamar mandi, atau menemukan dia di dapur. Ada yang hilang, ada yang lepas ada kenyamanan yang hilang.

Hmmm...how I miss you darling

The Wedding Vow

So it was the night of before my wedding day, the clock was showing 10.20 PM, it was late but not quite late. I can not sleep yet. I believe this was a combination of having almost a nervous breakdown and being placed in a room without an AirCon...
(I believe the latter gave 90 pct contribution).


Hemm, let me write down my wedding vow here ( I was planning to memorize at the church)"

Saya XXXXXXXXXXXX,
menyambut engkau YYYYYYYYYYY sebagai istri ku.
Saya akan tetap mengasihi engkau dengan setia, dan tidak meninggalkan engkau dalam suka dan duka, untung dan malang, dan segala sesuatu yang akan datang demi pengasihan Tuhan Yesus Kristus, selama Allah memberi hidup kepada kita bersama.


and my words for the wedding ring occasion:

YYYYYYYYYYYYY, cincin ini kuberikan kepadamu sebagai tanda cinta kasih dan kesetian ku.



---> Honey, please trust me that I put a lot of effort on memorizing this, so please forgive me if I make mistake during the showtime.

Yes, a lot of effort, please check with Jimmy, my mom, my neighbour, my auntie and all the people that I shook their hands re acting the "wedding hand shake"

A Point of No Return

It was a normal lazy Saturday afternoon, couple weeks before my wedding day, when suddenly she asked me this question ?

What is the meaning of marriage to you ?

To be honest, even in the couple weeks before the wedding day, I never really think about this. I mean about the meaning of marriage.
So, I answered her question, with the thing that I always thought of marriage :

" It means responsibility ".

One word that for me capture all. Having a family for me, means that I have a responsibility, just a pilot driving an airplane. I need to ensure what ever neccessary to ensure that the plane reach the destination, as comfy as possible journey, with if God allowed, only experiencing minor turbulences.
Being selfish and sometimes not even take care of my self, now I have a responsibility..to my family.

Or in the more honest way, it was just me being spontaneous.

Then she smiled, and said:

" For me, marriage means Point of No Return"

"Hehh ?""

" Ya, marriage means you cant go back and reverse the whole thing, or you can not simply escape from it and choose another path".


Hmm.....


Knowing that she was a systematic and near perfectionist behaviour, I suddenly realize, that it took her a lot of consideration to step into point of no return, having no firm assurance that the journey ahead will make her happier than she was today.
Specially, that journey will be with me.

Thursday, November 08, 2007

Karaoke in KL

Red-Box

One of the fun things in travelling, that you may encounter something unique something you can not find in your own home town.
Which is in my case Kuala Lumpur.

No...no I am not talking about taking picture of KLCC like bunch of "orang kampung", but more the unique experience when you are trying to mingle with the local society. This what interest me most.

So, it was Saturday nite, I have put on my newest Shirt and spray the my newest parfum....Yes..Single and ready to Mingle.

I and the boys decide heading up to Redbox, a family type karaoke in the heart of Bukit Bintang.
the place was cozy and located in the basement 2 at Low Yat plaza.
It cost us 42 RM for each person to get a 3.5 hours session there, with spacious room and interactive screen. Bit different with Jakarta, as in Jakarta the karaoke charge us on the room occupancy not on how many person enters the room.

" lesson learnt no. 41: some cost simply can not be shared".

Anyho, we start singing like bunch of 20 years old kids, fighting over the computer screen. Much to our expectation this karaoke indeed provide Indonesian songs, and well it is not too update, but hey it is KL not Jakarta.
When we start scrolling over the male singer name ( interestingly, the tv not only provide the name but also the picture of the singer)...
Look very enlighting untill a face of young chinesse guys labelled Utha Likumahuwa comes to screen....

Gee... I thought they only stole our "Rasa Sayange" but apparently...even the face of Utha Likumahuwa... Good Luck Utha !.

Lesson Learn # 43 : " Please consider to submit a copyright patent of my face and my name, some guy may use for something funny here"

Finally the clock was ticking to 00.30 am and we were called by reseptionist informing that the free supper are now available..

Free Supper ?...In Karaoke ?.. Hmm, if you think that the food is suck,well they totally not bad.

Tuesday, June 05, 2007

menjadi TKI


Sering dulu aku kalau melihat kawan-kawan yang bekerja di Luar negri, berpikir, wah betapa enak nya mereka. Gaji tinggi, fasilitas banyak, hidup di luar negeri. Dengan kondisi Negara Indonesia yang masih ajrut- ajrutan gak jelas gini, kehidupan di luar negeri tentunya lebih indah ke timbang di Jakarta .

Kondisi penggajian di Jakarta (yang notabene adalah pusat dari segala kegiatan bisnis), secara rata-rata, hanya cukup untuk kehidupan sehari-hari. Mungkin sekedar kendaraan (mobil), sudah bisa di dapatkan oleh orang yg telah 4-5 tahun bekerja, namun untuk tempat tinggal, mungkin yang 20 tahun bekerja pun belum mampu untuk mencari tempat tinggal yang ada di kota ataupun di lokasi yang cukup layak, dan tidak menyebabkan stress harian karena jauhnya dan macetnya tempat tinggal dengan lokasi tempat bekerja.

So dengan iming-iming gaji yang besar (jauh lebih besar ketimbang di Indo), impian untuk menjadi TKI pun membuncah di setiap sarjana di Indonesia . Yah mungkin tidak untuk selama nya jadi TKI, namun cukup lama untuk mampu membeli akomodasi yang layak etc.

Rumput tetangga selalu lebih hijau ketimbang rumput sendiri.

Pepatah ini terasa banget benarnya, setelah aku menjadi seorang TKI, di 2 negeri yang berbeda. Ada beberapa hal yang terasa banget perbedaan nya.

  1. Makanan : bagi orang Indo yang sudah terbiasa dengan masakan mamak yang berbumbu banyak, siap-siaplah kecewa dengan masakan di negeri orang. Makanan di luar, walaupun namanya sama dengan di Indonesia , bentuk nya pun sama dengan di Indonesia , namun memiliki rasa yang amat berbeda. Sepertinya ada beberapa bumbu yang di hilangin dari masakan. Dan jangan salahkan kalau koki nya pelit atau apa, karena sebagian besar orang luar memang menganggap masakan Indonesia itu terlalu spicy.
  2. kehidupan social. Mungkin ini termasuk yang terberat yang di hadapi oleh orang Indonesia yang bekerja di luar negeri. Kita orang Indonesia sudah sangat terbiasa dengan kondisi kekeluargaan yang tinggi, teman-teman yang banyak, jalan bareng atau pun makan bareng di luar, sekarang tiba-tiba mesti berhadapan dengan kondisi 180 derajat terbalik, dimana kita nyaris tak punya teman diluar lingkungan kantor. Dimana hidup bisa dibilang adalah repetisi yang jelas,
  3. sakit!!!. Ini baru terasa ama aku belakangan ini. Weekend gue spent dengan berbaring di tempat tidur di apartment gue, sendirian, gak ada yang ngerawat. Untuk nyari makan pun susah, karena jarang yang menimbulkan selera. Sempet kepikiran untuk pulang ajah ke Jakarta , toh walau disana penghasilan ku hanya pas-pasan saja, namun paling tidak aku kalau sakit ada yang ngerawat. Terkadang terdengar manja, cuman, kalau mau ke dokter ajah, bingung nerjemahin arti nya kesemutan, atau kesulitan menceritakan elo sakit apa ke dokter ?

Saturday, June 02, 2007

and 5 year after that

Kenalkan aku, umur 18 tahun dan baru lulus dari SMUN di pekanbaru. Setelah hidup hampir 13 tahun di pekanbaru, aku injakkan kaki ku di bumi jawa.

Menempuh UMPTN dengan hanya satu pilihan (TEKNIK SIPIL), soalnya hanya tahu teknik sipil dan teknik mesin pas di pekanbaru, ambil back up kuliah swasta pun TEKNIK SIPIL.

Masa sedih gak lulus UMPTN berlalu, pendadaran di dunia sipil pun ku masuki. Ku pikir, ini lah dunia ku nanti setelah lulus. Di cuci otak terus dengan para senior, gambar-gambar gedung megah yg sering di lihat, sampai judul-judul mata kuliah yang nama nya pasti seperti nama alient di tipi-tipi (coba dengar : Analisa Struktur Dengan Matrix, Beton Prategang, Analisa Finite Element)…sampai nama-nama mata kuliah yang seakan-akan mengatakan “kuliah ini kuliah sulit, tapi begitu keluar kau bisa kerjakan yg di ajarkan”..namanya benar2 bombastis. Misalnya rekayasa lapangan terbang, Pelabuhan, Rekayasa Pondasi.

Tentu nya yg ku ceritakan di atas, adalah mata kuliah senior-senior ku, yang telah 4-5 tahun kuliah, yang sudah di tempa dengan mata kuliah-mata kuliah yang jauh lebih sulit ketimbang Matematika pas di SMA. Dengan status cuman semester 1, aku harus berpuas untuk mendapatkan mata kuliah menggambar rekayasa dan Kalkulus 1.

Terkadang ku telpon, si Lia, incaran hati ku yang sekarang kuliah di IPB. Kita bercerita kuliah apa saja yang di ambil dan betapa beda cara belajar masa kuliah sama masa waktu kita di SMA. Sedikit aku berbombastis soal kuliah ku, Lia kuliah di kampus ternama, IPB, seantero Indonesia kenal dengan kampus ini. Sedangkan kampus ku, di kenal se antero Bandung…sampai sekarang pun ayah suka bilang sama orang, kalau aku kuliah di UNPAD, teknik sipil. Aduh salah persepsi dia.

Gertakan jiwa muda ku rasa menggoda di kampus, wahai gagah betul senior-senior itu dengan rambut sepanjang bahu, baju kucel, dan sebatang rokok A-Mild menempel dengan mantap di bibir. Ini sipil kata mereka, tak pantas kita berpakaian rapi, karena kita ini calon orang lapangan. Makin mantap lagi, di ciptakan pula lagu buat kami meninggikan sipil merendahkan jurusan laen….wah makin cinta rasa nya aku di sipil. Ini sipil, kami termasuk manusia-manusia pilihan karena kemampuan otak kami sudah membedakan kami sama manusia jurusan laen.


Mulailah ku sisihkan uang dari mamak yang 300 ribu sebulan itu, untuk membeli A-Mild. Wah rasanya, di terima betul bercakap-cakap dengan teman-teman, sambil merokok. Rasa nya dewasa betul dan jantan.


Ku telpon Lia, dia bercerita kalau orang-orang kampus itu jauh lebih pintar dari yang pernah kami temui di SMA. Wah benar, aku dan lia ini termasuk top 5 waktu sma, dan pas kuliah rasanya banyak betul orang yang lebih pintar dari kita. Entah bagaimana belajar nya, atau memang kualitas otak dari manusia jawa jauh lebih mumpuni dari kami otak yang dibesarkan di pekanbaru.

Yang paling jelas terasa, masa awal kuliah masa menentukan pilihan. Dulu di SMA, aku les bareng dengan Lia sepulang kuliah, atau bermobil seputar kota dengan kawan-kawan. Sedangkan di bandung menjadi angkot maniac..kemana pun naek angkot. Yang jelas duit menjadi masalah utama, pengen ketemuan ama Lia, cuman uang nya tidak cukup. Dulu kawan-kawanku di SMA, ada manusia-manusia yang menunaikan printah orang tua, untuk rajin belajar. Sekarang sepertinya, kawan ku di kuliah adalah anak-anak rantau seperti ku.

Dan tentunya yang menang, adalah yang paling cepat menjangkau, yaitu anak-anak yang juga tercuci otak oleh himpunan. Kegiatan ku pun mulai terisi dengan kegiatan bersama-sama dengan mereka. Ada saja yang diberikan oleh himpunan sehingga hari-hari pun sibuk dengan kegiatan/ penugasan mereka. Aku pun mulai sering lupa menelpon Lia.

Hari itu, hampir 6 bulan aku di tanah bandung, ku telpon Lia, sekalian minta maaf….sudah 2 bulan dia tak hubungi. Jawaban yg kuterima menyesakkan dada…dia bilang, kita harus mulai tahu arah melangkah, di ceritakan nya keterlibatan nya dengan suatu organisasi religi, yang membuat mata nya terbuka jelas, akan kemana hubungan tidak jelas kami.

5 tahun kemudian, rasa sebal telah hilang, dan aku pun akhirnya mengerti kalau Lia pun mengalami gejolak masa muda seperti ku.

Solution ??


Beberapa hari yang lalu, aku dan 2 orang temen lagi, berbincang di kanal dunia maya, Yahoo Messenger. Ngobrol ngalor ngidul, seorang temen bercerita kalau dia sedang menangani proyek sumur resapan untuk penanggulangan banjir di Jakarta. Terus terang aku mungkin mendapat salah pengertian, atau temen ku yang salah nerangin, beginilah kutipan dari bagaimana cara bekerja nya ini sumur resapan>

“ Bor lubang dengan kedalaman 1 meter, dengan diameter sekitar 20cm, usahakan lubang bor berada di daerah tempat sampah daun2an. Tutupin lubang dengan sampah dedaunan, sehingga binatang-binatang dalam tanah (semut), akan menggunakan nya sebagai tempat tinggal (karena gembur). Kemudian dengan pengadaan lubang bor yang banyak, semut2 ini akan membuat lorong2 dibawah tanah mengkoneksi kan satu lubang bor dengan lubang bor yang laen, sehingga, secara tidak langsung sebuah jalur pipa bawah tanah yg tembus air, dapat tercipta. Hal ini akan menjadi kan nya sebagai penanggulangan banjir secara murah dan terpadu.
Sebagai tambahan, dimana akhirnya jalur-jalur pipa bawah tanah ini akan berakhir, akan di tentukan sendiri oleh kondisi alam “.

My first reaction was “ ehhh ??”.

Semua engineering sense gue mengatakan this thing won’t work. Kalau dikatakan, bahwa sumur-sumur ini hanya sebagai resapan, aku bisa terima, secara logis, penyebab banjir karena run off dari air hujan tidak mampu di akomodasi oleh saluran penyalur yang ada dan menyebabkan akhirnya air tersebar dimana2 atau fenomena yang kita kenal dengan banjir.

Namun expetasi kalau semut akan dig an underground tunnel for us, somehow it seem too absurd bagi gue. Bukan hanya Jakarta yang menghadapi fenomena banjir di kota nya, tetapi hampir seluruh kota di dunia menghadapi nya. Dan ada 2 solusi general yang mereka lakukan adalah, mengurangin volume air yang run off ke saluran banjir dan memperbaiki kondisi saluran banjir. Dan kalau orang awam mengatakan ada nya fenomena banjir 5tahunan, ilmu hydroteknik juga mencetuskan fenomena ini. Bahwa ada cycle banjir (yg sayangnya belum mampu kita prediksi tepatnya), namun skala dari banjir ini akan membesar sesuai dgn siklusnya (say banjir 5thn > dari banjir 1 thn), sehingga sering di kota besar di Negara laen, kita lihat kalau saluran banjir nya gede banget, sedangkan air nya cetek banget.


Yang lebih edan-edanan bisa di lihat KL atau NY, dua-dua nya membuat underground tunnel, karena ongkos pembebasan tanah sangat mahal ketimbang mesti membuat terowongan bawah tanah.

Nah untuk Jakarta sendiri, solusi menurut gue sih sudah sangat disadarin oleh para punggawa negeri ini. Perbaiki daerah resapan di hulu dan perbaikin system saluran banjir yang ada di kota. Soal cost ?. yah memang besar, cuman di timbang dari cost yang mesti di tanggung tiap tahun atau mungkin tiap ada nya banjir, cost ini bisa di bilang lebih kecil. Memang cost untuk kerugian banjir yang kelihatan di dalam anggaran belanja mungkin tidak sebesar cost untuk menyelesaikan Banjir Kanal timur. Cuman hidden cost yang di tanggung masyarakat, dari terhenti bisnis, korban jiwa, biaya social yg mesti di tanggung, jauh lebih besar dari pada yang cost untuk membangun banjir kanal timur.

Mungkin inilah tipikal bangsa Indonesia, salah satu kelemahan kita sebagai bangsa Indonesia. Kita berusaha mengobati kanker dengan obat sakit kepala. Memang sakit kepalanya hilang, tapi proven damage nya belum hilang. Kita melihat suatu solusi sangat mahal, sehingga kita berusaha menjustifikasi sebuah instant solution sebagai one drug cures all. Para pakar sudah memberikan solusi permasalahan, cuman kita bukan nya menjalankan solusi itu, namun malah berusaha mencari pakar-pakar lain yang bisa memberikan “solusi” yang lebih murah.

Coba liat contoh bola beton untuk lumpur lapindo, ahli-ahli drilling sudah mengatakan kalau solusi tercepat dan terbaik adalah dengan kita membangun relief well, walaupun memang drill rig itu cost nya sampai 200K USD/day. Cuman kita berusaha atasi dengan bola beton ? kita akhirnya di giring untuk mengikuti rencana “awal” untuk accept ini sebagai perintah dari Yang Maha Esa, dan menutup mata akan penderitaan nyaris 30 ribu orang.


Coba liet dengan kemacetan Jakarta yang nyaris never ending nightmare. Kita tahu, bahwa mass transportation lah yang kita butuhkan, bukan nya pembangunan besar-besaran jalan tol. Namun tetep saja, kita memaksakan ini. Kita endure cost yang tak terhitung setiap hari untuk menelan kesalahan kebijakan transportasi ini.

Sampai pada satu titik, aku berpikir kalau kita ini bukan menggantungkan diri pada perencanaan yang matang dan eksekusi yang tepat, namun kita menggantungkan diri pada keberuntungan dan lapangnya hati orang Indonesia dalam menerima cobaan .

In my opinion

Akhirnya setelah nyaris 2 minggu dalam kondisi hiatus, gue mulai naek ke gigi 1, yah udah mulai kerja dikit2 (dikit banget).

Anyhow…enuff for the work stuff, sekarang waktu nya pikirkan weekend. Soalnya Juni, temen lama dari batam, hendak datang sore ini. Plan nya sih cumin mau muter2 doang di daerah bukit bintang malamnya, terus di ikutin oleh berputer-puter di daerah Genting Highland ke esokan hari nya. Selain nyobain theme park nya ( ada yg bilang bagus, ada yang bilang bagusan dufan), ada rencana juga untuk nyobain casino nya. Ada regulation memang, malay moslem gak bisa masuk ke sana, cuman kan kita orang-orang indon, jadi nya di luar dari peraturan (hope so ).


Pengen cerita dikit soal KL.
Yang pasti nya, menyebut soal KL, tanpa involve kota2 sekitar nya adalah kesalahan besar. Karena yang aku pahamin disini tuh system kota satelit itu bener-bener jalan. Dan tidak seperti Jakarta yang kota satelit nya hanya berfungsi sebagai tempat orang tidur, di KL sering sekali orang juga bekerja di kota satelit tersebut. Contoh gampang nya yah kantor gue ini.
Cuman disini, kayanya jangkauan untuk public transportation masih kurang, sehingga orang-orang secara langsung di drive untuk memilki kendaraan. Dan dgn harga mobil yg sama dengan Jakarta, namun penghasilan per kapita orang2 Malaysia lebih besar dari per kapita Indonesia, akibatnya orang-orang di sini jadi membeli mobil. Melihat motor di jadikan kendaraan untuk commuting masih jarang gue lihat disini, lagian kalau gue juga pemilik motor, melihat jarak tempuh yang lumayan (yg brarti bakal pegel tuh pantat ), opsi untuk memiliki mobil menjadi pilihan utama.

Dan satu hal yang gue ampe sekarang belum dapat fix way to determine adalah, bagaimana mencari taksi yang mau argometer. Menggunakan argometer itu, menghabiskan cost sekitar 15-18RM max, dari kantor ke apartment, sekarang tanpa argo itu bisa 30-40 RM. Jadi terus terang bingung juga, masa kota sudah semaju gini, tapi taksi masih model di batam. Dengan keinginan untuk membuat Malaysia menjadi salah atraksi terbesar di asia, factor taksi mesti mendapat perhatian utama dari KL town council.


Tuesday, May 29, 2007

Adapting

Kalau mau di list kelemahan-kelemahan gue, salah satu yang menonjol adalah kemampuan ber adaptasi.
Sudah lebih setahun, bisa di bilang gue bekerja di kantor yang berbeda. Dari head office di singapore, di bertugas di perusahan X yg ada di tebet, dan sekarang ada di KL.

Bekerja dengan various nationalities, kelemahan yg jelas terlihat dan gue rasain, adalah gue kurang mampu untuk bisa approach seseorang apalagi dia bukan indonesia atau asian. Singaporean atau malaysian, mereka lebih friendly, lebih terbuka, sedangkan bule, kayanya lebih tertutup. Gak tahu ya kenapa, mungkin perasaan gue ajah, perasaan untuk membuktikan kompetensi diri, jadi sering terkadang malu.
Teringat masa-masa aku kerja di Kantor jakarta,aku bisa dibilang butuh hampir 2 bulan untuk bisa adaptasi dengan orang-orang kantor.

Huff, sudah 10 hari, dan dasarnya tiap hari gue cuman maen email2 doang...gak ngapa2in. Baca-baca dokumen, dan feel like an Idiot. Agak gak enak juga, soalnya barusan gue nyemplung di project, dimana gue running dengan gigi 5 (the best that my brain can give me.....), sekarang di paksa masuk ke idle position.
Let see what I accomplished today : reading emails, chatting with guntur, wiring money to several accounts, and that was it.

I feel that I need to stand up, and say "Look guys, please give me something to work on, may be I will make mistake, but I promise you got the best what I can deliver".
The other thing is, my status in here is still not clear up to the moment. Apparently previous practice in Singapore will not work out in here, M'sia proven to be more strict on immigration, so I may be facing trouble when I get back here. Things to solve, and I do need to gear up my guts to do so.

Saturday, May 26, 2007

AKhir ke KL

Setelah nyaris 4 bulan menjadi serdadu bayaran dan terlibat ama project kacau balau, akhirnya impian untuk di tempatkan di KL dan ikutan dalam sebuah project yang bisa di bilang frontier engineering tercapai juga.

Hari terakhir ku di perusahaan X (namanya gak usah gue sebut deh), berakhir dengan salam2an dengan semua orang yang gue kenal disana. Sudah 5 tahun bekerja, bisa di bilang ini adalah pekerjaan terberat yang gue hadapin. Bekerja di perusahaan yang berbeda, dan culture yang berbeda, dimana kondisi project sendiri sudah critical. Bekerja larut malam dan weekend, dan mendapat 2 x serangan amandel (tapi akhirnya di copot sih nih amandel sialan). Dan di saat kapal masih di tengah laut, email dari bigboss datang menyuruh gue pergi ke KL.

Dengan kondisi every man for himself di kantor sekarang, aku dari awal memang request untuk di tempat kan di KL, ada proyek super menarik yang berada di sana. Cuman perjuangan cukup lama, dan sementara nungguin proposal ku masuk, ada penugasan laen untuk kerja di perusahaan X ini.
Sedikit menggerutus sih pas masuk perusahaan X ini, soalnya aku cuman dapat 1/4 dari yg bisa kubawa pulang kalau di tugaskan di KL, namun pepatah blessing in disguise kaya benar adanya.

Lamaran ke aster telah kupenuhi, administasi gereja sudah dipertengahan, persiapan pernikahan juga mulai kita cicil, dan impian untuk membeli Honda City juga terlaksana. Dan ternyata proyek yang gue masukin, selain dari kerja keras dan stress yg terus menerus, juga memberikan banyak masukan ilmu baru kepada gue.
Memandang tugas di KL juga bakalan berbulan-bulan lagi, aku pun keluar dari kos ku dan
pindah ke rumah family ku.

Oh iya....satu hal lagi yang ter accomplish, adalah gue akhirnya operasi amandel !!. Deg2an, dan cuman di temenin oleh adik gue, masuk juga gue ke rumah sakit THT yang ada di Ciranjang.
Bius total nih operasi nya (dan kata adik ku, cuman 15 menit). Bagi yang belum pernah di operasi amandel gini loh rasa nya :
1. Puasa 5 jam dulu sebelum ops. (yg dimaksud puasa artinya gak makan dan gak minum, dan ternyata makan 3 keping potato chips dan setengah botol teh sosro termasuk yg pelanggaran puasa :))
2. Disuruh masuk ruang ops, tiduran, terus tangan kiri di pasangin kaya infus gitu. Gak sakit, walau awal gue serem juga ngelietin nya. Terus ama dokter nya, di suruh tiduran. Jadi aku berusaha untuk tidur, dan gak lama kemudian langsung ngantuk berat dan tidur blank.
3. Bangun dalam kondisi ngantuk berat tapi udah sadar (mungkin ini rasa nya orang2 yg fly karena narkoba ya), di tuntun balik ke kamar.
Berhubung gue tadi minum teh botol (kata suster gue ampe di pompa perutnya), gue langsung merasa mau pipis berat dan di tuntun adik gue akhirnya ke Wc, soalnya masih agak goyang gitu.
Walau ngantuk, disuruh suster makan bubur tepung dan puding dingin, terus continue makan obat serbuk gitu. ( terdiri dari obat antibiotik, anti sakit, anti radang).
post note : kata adik gue nyambungin kata suster, alasan orang operasi di suruh puasa, karena abis operasi orang yg makan n minum lgs pengen BAB dan pipis.
4. Besok pagi nya bangun, dengan rasa sakit di mulut, tapi kepala gak pusing sama sekali. Setelah clearing semua urusan admin rumah sakit ( gue lakukan sendiri, dengan suara yg masih kaya anak kecil), gue pulang membawa aturan makan dari rumah sakit.

Aturan makan nya :
1. Hari pertama bubur tepung dingin & puding dingin
2. Hari kedua & ketiga bubur tepung ama biskuit di masukin susu
3. Hari ke4 & ke 5, bubur dengan telor ceplok
4.Hari ke 6, makan nasi tapi gak boleh pedas dan keras. Gak boleh makan kerupuk !!!.

Nah yang gue lakuin in actual.
1. Hari pertama-->makan bubur bayi milna gitu ama es krim
2. Hari kedua --> makan bubur bayi lagi tapi gue udah makan telor stengah matang
3. Hari ke 3, kelaparan cuman makan bubur bayi (eh ada yg enak juga sih), gue makan bubur deh, cuman gue dinginin dulu di kulkas.
4. Hari ke 4, ketemu dokter, dan ama dia dibilang makan ajah makanan biasa...biar cepet sembuh...nah loh...Teori si dokter, leher gue tuh masih dalam kondisi kaku dan supaya cepet tidak kaku mesti banyak bergerak..yaitu makan. Ini juga supaya benang nya cepet copot.

Oh iya, aku tuh udah jalan2 ajah hari ke2 operasi, habis bengong mau ngapain...mending jalan2. cuman emang cepet capek, soalnya biasanya makan nasi ampe 2 piring, sekarang di umpanin bubur bayi.

Akhirnya dengan semangat 45, dan anjuran dokter, gue pun makan berat...walaupun cuman mie sih... Hari2 berikutnya gue paksain makan nasi...walaupun pelan dan mesti di selingin minuman dingin.

Sekarang udah hari ke 10, dan makan udah bisa apa ajah cuman emang masih sedikit rasa ganjal kalau menelan ludah.

Oh iya,....obat dokter agak sensisitif kalau buat penderita maag kaya gue..Pernah gue muntah saking mual ya.

Oke that's it for today....It is 3am here already in KL

Monday, January 22, 2007

Sayang Anak ?


Seiring berpindahnya gue ke ibukota 3 tahun yang lalu, sedikit demi sedikit gaya hidup ibukota yang hedonis pun mengalir merasuki jiwa gue..(hah!). Salah satu lifestyle ibukota yang gue jalanin adalah, clubbing alias dugem. Dari awal nya keinginantahuan berubah menjadi kebiasaan, gue biasa clubbing di kota manapun gue berada (kecuali emang gak ada tempat clubbingnya).
Terkadang, kalau lagi terbengong pada saat clubbing, mata pun sering berkeliaran bebas, merekam fenomena-fenomena yang unik (baca: cewe cakep), menggugah (baca:cewe cakep) dan menarik (baca: cewe cakep lagi).
Satu fenomena yang tertangkap, di tengah dentuman speaker yang segede dosa, jam berdentang menunjukkan jam 12malam, asap rokok mengepul, ada seorang anak kecil yang terkadang berumur kurang dari 5 tahun, sedang berada di diskotik. Biasanya anak-anak ini, kalau tidak mata menunjukkan rasa kantuk, sering nya malah mata berpijar karena melihat tontonan baru, atau mungkin heran mengapa banyak orang-orang dewasa bergerak dalam gerak yang sama sekali gak harmonis dan gak beraturan.

Tidak mau berpikiran buruk dan sebagai seorang engineer sejati, yang bergerak dari fakta kemudian ke kemungkinan-kemungkinan, dan di akhiri oleh deduksi :

a. Mumpung lagi ladies night, toh gak ada batasan umur ini
b. mungkin siang nya, tempat clubbing ini adalah daycare centre untuk balita, nah anak kecil ini, mungkin anak yang lupa di jemput ama orang tua nya
c. mungkin tulisan pakar2 selama ini dikoran telah terbukti, kalau pola hidup kebarat-baratan telah meracuni anak-anak muda kita. atau mungkin para pakar salah, pola hidup kebarat-baratan itu sudah meracuni balita-balita kita.



Satu kali seorang temen dan suami nya, bergabung dengan grup clubbing gue, setelah mereka berbelanja di carrefour. Selain membawa berkantong-kantong plastik dan sapu, mereka juga membawa anak mereka yang baru berumur 3 tahun. Akhir pertanyaan gue bisa di jawab langsung oleh sang pelaku utama.
" Gini man, gue tuh ketemuan ama anak gue tuh cukup jarang,dengan berangkat pagi dan pulang malam, jarang banget gue bisa berkumpul dimana anak gue masih bangun, lagian sayang juga mereka dia di tinggalin di rumah kalau gue mau dugem. Biar dah punya anak, gue kan masih punya kebutuhan dan keinginan untuk dugem".

Sunday, January 21, 2007

Green Canyon


Awalnya sih, rencana ke tempat ini gara-gara tergoda cerita seorang teman, bagaimana tempat ini alami...menikmati pemandangan di sepanjang garis sungai, di akhir oleh di ngeliat curahan air di staglatit ( ini bener gak sih nulis nya).

Maka bersama dengan 3 orang sepupu gue, berangkat juga lah kami ke tempat ini.
Dengan membayar 70 ribu di pintu masuk, kita bisa menyewa sebuah perahu bersama 2 orang guide nya. Perjalanan 20 menit menembus arus sungai, terasa sangat singkat karena mata seakan tidak lelah-lelah nya melihat-lihat keadaan sekeliling yang hijau dan alami.
Perjalanan dengan perahu ini berakhir pabila air mulai tercurah dari atap batu yang menaungi perjalan di sungai. Dan batu besar menghadang di jalan.
Kebetulan sepupu gue, adalah narsis yang menggemari foto diri sendiri, makanya batu-batuan di sana pun menjadi korban sebagai latar belakang mereka berfoto.

Tergoda dengan tawaran guide, untuk trekking menjelajahi sungai lebih ke hulu, tanpa ada rasa malu (plus emang cuman kita doang yang ada di sana pas saat itu), semua pakaian pun dilepas, tinggal sehelai celana dalam dan baju pelampung, dan bertelanjang kaki akhirnya kami memutuskan untuk memulai penjelajahan.

Perjalanan di mulai dengan berenang melawan arus (yang gak kencang sama sekali), menuju batu terdekat, kemudian mendaki batu-batuan tersebut. Berhubung gue sama sekali gak ada bakat untuk olah tubuh, plus batu-batu yang cukup licin, maka perjalan terasa cukup menyulitkan. Mungkin lain kali kesana, sepatu karet bakalan menjadi temen yang setia untuk membuat kita merasa lebih stabil dalam menapaki batuan.

makin jauh ke dalam, perjalanan makin sulit, ada batuan yang sampai miring 70 derajat namun pijakan untuk memanjat makin sulit di raih, sampai akhirnya aku terkadang memutuskan untuk nyebur di air, walaupun terkadang sulit untuk melawan arus.

Setengah perjalanan, yang terpikir hanyalah, gimana nanti kembali nya, sedangkan berangkat sajah susah banget. Namun, daripada di tinggalin ama yang laen ( yes, u r right, gue emang di barisan terakhir), terpaksa otot kaki yang mulai bergetar di lupakan. Cuman pemandangan yang didapat emang fantastis, setiap kali berhasil melewati satu rintangan, kemudian berdiri sejenak, menghirup udara segar, mata di arahkan ke tebing yang menjulang 30 meter, energi seakan terisi kembali.

Akhirnya setelah trekking selama 1 jam, dan setengah kilometer ( yeah..yeah...sulit lho...susah beneran).., kita (aka gue) minta ampun ama guide sekalian minta di antarin pulang. ternyata pulangnya ada jalur yang gampang gitu, yang kita cuman gak nyampe 10 menit sudah tiba di titik awal penjelajahan... sigh...



Friday, January 19, 2007

Bakso Bakar

Terus terang sih, bakso bukan merupakan makanan favorit gue. Walau bakso bisa di bilang makanan terpopuler di indonesia dibuktikan ada nya gerobak bakso dari Metropolitan Jakarta ampe desa tengah gunung (pernah ketemuan pas gue lagi di lapangan cing), bakso tetep gak merupakan makanan favorit gue...
Suatu saat, email dari seorang sahabat mengundang untuk datang ke kota malang, dan gue baru tahu kalo si sahabat ini ternyata penggemar berat bakso.
Nah cuman kali ini, dia ngajak gue ke bakso yang model laen.... Bakso bakar. Hmmm, kenapa gak ada yang pernah kepikiran ya.
Aku kebetulan di ajak ke Bakso Trowulan ( di deket ABM), dimana menurut gue ( sebagai orang yang gak terlalu demen bakso), proses nya cukup unik :

1. Mesen ama mas-mas nya tipe bakso bakar yang di inginkan. Ada bakso kasar dan halus ( kasar lebih susah di kunyah), berapa buah yang kita inginkan dan jenis bumbu yang kita inginkan ( pilihan cuman bumbu pedes dan bumbu biasa). Begitu kita selesai merancang tipe bakso bakar yang kita inginkan, si mas-masnya bakal mulai mempersiapkan si abkso bakar.

2. Kita mengarah ke meja bakso. Disana kita diminta menyiapkan sendiri, berapa bakso rebus dan atau tahu rebus yang kita inginkan bersamaan dengan jumlah mie yang kita pilih. Baru ngambil kuah bakso dari panci besar yang terus menerus mengepulkan asap dan aroma bakso rebus....Hmmm., ide unik di satu sisi kita ngerasa enak bisa milih2 keinginan sendiri di satu sisi si penjual bakso menghemat tenaga kerja untuk menyiapkan bakso rebus untuk pelanggan nya.

3. Mulai menyantap sang bakso rebus, dimana begitu kita selesai, sang bakso bakar pun sudah siap dan siap di kunyah...voala..
Makan!!