Tuesday, June 05, 2007

menjadi TKI


Sering dulu aku kalau melihat kawan-kawan yang bekerja di Luar negri, berpikir, wah betapa enak nya mereka. Gaji tinggi, fasilitas banyak, hidup di luar negeri. Dengan kondisi Negara Indonesia yang masih ajrut- ajrutan gak jelas gini, kehidupan di luar negeri tentunya lebih indah ke timbang di Jakarta .

Kondisi penggajian di Jakarta (yang notabene adalah pusat dari segala kegiatan bisnis), secara rata-rata, hanya cukup untuk kehidupan sehari-hari. Mungkin sekedar kendaraan (mobil), sudah bisa di dapatkan oleh orang yg telah 4-5 tahun bekerja, namun untuk tempat tinggal, mungkin yang 20 tahun bekerja pun belum mampu untuk mencari tempat tinggal yang ada di kota ataupun di lokasi yang cukup layak, dan tidak menyebabkan stress harian karena jauhnya dan macetnya tempat tinggal dengan lokasi tempat bekerja.

So dengan iming-iming gaji yang besar (jauh lebih besar ketimbang di Indo), impian untuk menjadi TKI pun membuncah di setiap sarjana di Indonesia . Yah mungkin tidak untuk selama nya jadi TKI, namun cukup lama untuk mampu membeli akomodasi yang layak etc.

Rumput tetangga selalu lebih hijau ketimbang rumput sendiri.

Pepatah ini terasa banget benarnya, setelah aku menjadi seorang TKI, di 2 negeri yang berbeda. Ada beberapa hal yang terasa banget perbedaan nya.

  1. Makanan : bagi orang Indo yang sudah terbiasa dengan masakan mamak yang berbumbu banyak, siap-siaplah kecewa dengan masakan di negeri orang. Makanan di luar, walaupun namanya sama dengan di Indonesia , bentuk nya pun sama dengan di Indonesia , namun memiliki rasa yang amat berbeda. Sepertinya ada beberapa bumbu yang di hilangin dari masakan. Dan jangan salahkan kalau koki nya pelit atau apa, karena sebagian besar orang luar memang menganggap masakan Indonesia itu terlalu spicy.
  2. kehidupan social. Mungkin ini termasuk yang terberat yang di hadapi oleh orang Indonesia yang bekerja di luar negeri. Kita orang Indonesia sudah sangat terbiasa dengan kondisi kekeluargaan yang tinggi, teman-teman yang banyak, jalan bareng atau pun makan bareng di luar, sekarang tiba-tiba mesti berhadapan dengan kondisi 180 derajat terbalik, dimana kita nyaris tak punya teman diluar lingkungan kantor. Dimana hidup bisa dibilang adalah repetisi yang jelas,
  3. sakit!!!. Ini baru terasa ama aku belakangan ini. Weekend gue spent dengan berbaring di tempat tidur di apartment gue, sendirian, gak ada yang ngerawat. Untuk nyari makan pun susah, karena jarang yang menimbulkan selera. Sempet kepikiran untuk pulang ajah ke Jakarta , toh walau disana penghasilan ku hanya pas-pasan saja, namun paling tidak aku kalau sakit ada yang ngerawat. Terkadang terdengar manja, cuman, kalau mau ke dokter ajah, bingung nerjemahin arti nya kesemutan, atau kesulitan menceritakan elo sakit apa ke dokter ?

Saturday, June 02, 2007

and 5 year after that

Kenalkan aku, umur 18 tahun dan baru lulus dari SMUN di pekanbaru. Setelah hidup hampir 13 tahun di pekanbaru, aku injakkan kaki ku di bumi jawa.

Menempuh UMPTN dengan hanya satu pilihan (TEKNIK SIPIL), soalnya hanya tahu teknik sipil dan teknik mesin pas di pekanbaru, ambil back up kuliah swasta pun TEKNIK SIPIL.

Masa sedih gak lulus UMPTN berlalu, pendadaran di dunia sipil pun ku masuki. Ku pikir, ini lah dunia ku nanti setelah lulus. Di cuci otak terus dengan para senior, gambar-gambar gedung megah yg sering di lihat, sampai judul-judul mata kuliah yang nama nya pasti seperti nama alient di tipi-tipi (coba dengar : Analisa Struktur Dengan Matrix, Beton Prategang, Analisa Finite Element)…sampai nama-nama mata kuliah yang seakan-akan mengatakan “kuliah ini kuliah sulit, tapi begitu keluar kau bisa kerjakan yg di ajarkan”..namanya benar2 bombastis. Misalnya rekayasa lapangan terbang, Pelabuhan, Rekayasa Pondasi.

Tentu nya yg ku ceritakan di atas, adalah mata kuliah senior-senior ku, yang telah 4-5 tahun kuliah, yang sudah di tempa dengan mata kuliah-mata kuliah yang jauh lebih sulit ketimbang Matematika pas di SMA. Dengan status cuman semester 1, aku harus berpuas untuk mendapatkan mata kuliah menggambar rekayasa dan Kalkulus 1.

Terkadang ku telpon, si Lia, incaran hati ku yang sekarang kuliah di IPB. Kita bercerita kuliah apa saja yang di ambil dan betapa beda cara belajar masa kuliah sama masa waktu kita di SMA. Sedikit aku berbombastis soal kuliah ku, Lia kuliah di kampus ternama, IPB, seantero Indonesia kenal dengan kampus ini. Sedangkan kampus ku, di kenal se antero Bandung…sampai sekarang pun ayah suka bilang sama orang, kalau aku kuliah di UNPAD, teknik sipil. Aduh salah persepsi dia.

Gertakan jiwa muda ku rasa menggoda di kampus, wahai gagah betul senior-senior itu dengan rambut sepanjang bahu, baju kucel, dan sebatang rokok A-Mild menempel dengan mantap di bibir. Ini sipil kata mereka, tak pantas kita berpakaian rapi, karena kita ini calon orang lapangan. Makin mantap lagi, di ciptakan pula lagu buat kami meninggikan sipil merendahkan jurusan laen….wah makin cinta rasa nya aku di sipil. Ini sipil, kami termasuk manusia-manusia pilihan karena kemampuan otak kami sudah membedakan kami sama manusia jurusan laen.


Mulailah ku sisihkan uang dari mamak yang 300 ribu sebulan itu, untuk membeli A-Mild. Wah rasanya, di terima betul bercakap-cakap dengan teman-teman, sambil merokok. Rasa nya dewasa betul dan jantan.


Ku telpon Lia, dia bercerita kalau orang-orang kampus itu jauh lebih pintar dari yang pernah kami temui di SMA. Wah benar, aku dan lia ini termasuk top 5 waktu sma, dan pas kuliah rasanya banyak betul orang yang lebih pintar dari kita. Entah bagaimana belajar nya, atau memang kualitas otak dari manusia jawa jauh lebih mumpuni dari kami otak yang dibesarkan di pekanbaru.

Yang paling jelas terasa, masa awal kuliah masa menentukan pilihan. Dulu di SMA, aku les bareng dengan Lia sepulang kuliah, atau bermobil seputar kota dengan kawan-kawan. Sedangkan di bandung menjadi angkot maniac..kemana pun naek angkot. Yang jelas duit menjadi masalah utama, pengen ketemuan ama Lia, cuman uang nya tidak cukup. Dulu kawan-kawanku di SMA, ada manusia-manusia yang menunaikan printah orang tua, untuk rajin belajar. Sekarang sepertinya, kawan ku di kuliah adalah anak-anak rantau seperti ku.

Dan tentunya yang menang, adalah yang paling cepat menjangkau, yaitu anak-anak yang juga tercuci otak oleh himpunan. Kegiatan ku pun mulai terisi dengan kegiatan bersama-sama dengan mereka. Ada saja yang diberikan oleh himpunan sehingga hari-hari pun sibuk dengan kegiatan/ penugasan mereka. Aku pun mulai sering lupa menelpon Lia.

Hari itu, hampir 6 bulan aku di tanah bandung, ku telpon Lia, sekalian minta maaf….sudah 2 bulan dia tak hubungi. Jawaban yg kuterima menyesakkan dada…dia bilang, kita harus mulai tahu arah melangkah, di ceritakan nya keterlibatan nya dengan suatu organisasi religi, yang membuat mata nya terbuka jelas, akan kemana hubungan tidak jelas kami.

5 tahun kemudian, rasa sebal telah hilang, dan aku pun akhirnya mengerti kalau Lia pun mengalami gejolak masa muda seperti ku.

Solution ??


Beberapa hari yang lalu, aku dan 2 orang temen lagi, berbincang di kanal dunia maya, Yahoo Messenger. Ngobrol ngalor ngidul, seorang temen bercerita kalau dia sedang menangani proyek sumur resapan untuk penanggulangan banjir di Jakarta. Terus terang aku mungkin mendapat salah pengertian, atau temen ku yang salah nerangin, beginilah kutipan dari bagaimana cara bekerja nya ini sumur resapan>

“ Bor lubang dengan kedalaman 1 meter, dengan diameter sekitar 20cm, usahakan lubang bor berada di daerah tempat sampah daun2an. Tutupin lubang dengan sampah dedaunan, sehingga binatang-binatang dalam tanah (semut), akan menggunakan nya sebagai tempat tinggal (karena gembur). Kemudian dengan pengadaan lubang bor yang banyak, semut2 ini akan membuat lorong2 dibawah tanah mengkoneksi kan satu lubang bor dengan lubang bor yang laen, sehingga, secara tidak langsung sebuah jalur pipa bawah tanah yg tembus air, dapat tercipta. Hal ini akan menjadi kan nya sebagai penanggulangan banjir secara murah dan terpadu.
Sebagai tambahan, dimana akhirnya jalur-jalur pipa bawah tanah ini akan berakhir, akan di tentukan sendiri oleh kondisi alam “.

My first reaction was “ ehhh ??”.

Semua engineering sense gue mengatakan this thing won’t work. Kalau dikatakan, bahwa sumur-sumur ini hanya sebagai resapan, aku bisa terima, secara logis, penyebab banjir karena run off dari air hujan tidak mampu di akomodasi oleh saluran penyalur yang ada dan menyebabkan akhirnya air tersebar dimana2 atau fenomena yang kita kenal dengan banjir.

Namun expetasi kalau semut akan dig an underground tunnel for us, somehow it seem too absurd bagi gue. Bukan hanya Jakarta yang menghadapi fenomena banjir di kota nya, tetapi hampir seluruh kota di dunia menghadapi nya. Dan ada 2 solusi general yang mereka lakukan adalah, mengurangin volume air yang run off ke saluran banjir dan memperbaiki kondisi saluran banjir. Dan kalau orang awam mengatakan ada nya fenomena banjir 5tahunan, ilmu hydroteknik juga mencetuskan fenomena ini. Bahwa ada cycle banjir (yg sayangnya belum mampu kita prediksi tepatnya), namun skala dari banjir ini akan membesar sesuai dgn siklusnya (say banjir 5thn > dari banjir 1 thn), sehingga sering di kota besar di Negara laen, kita lihat kalau saluran banjir nya gede banget, sedangkan air nya cetek banget.


Yang lebih edan-edanan bisa di lihat KL atau NY, dua-dua nya membuat underground tunnel, karena ongkos pembebasan tanah sangat mahal ketimbang mesti membuat terowongan bawah tanah.

Nah untuk Jakarta sendiri, solusi menurut gue sih sudah sangat disadarin oleh para punggawa negeri ini. Perbaiki daerah resapan di hulu dan perbaikin system saluran banjir yang ada di kota. Soal cost ?. yah memang besar, cuman di timbang dari cost yang mesti di tanggung tiap tahun atau mungkin tiap ada nya banjir, cost ini bisa di bilang lebih kecil. Memang cost untuk kerugian banjir yang kelihatan di dalam anggaran belanja mungkin tidak sebesar cost untuk menyelesaikan Banjir Kanal timur. Cuman hidden cost yang di tanggung masyarakat, dari terhenti bisnis, korban jiwa, biaya social yg mesti di tanggung, jauh lebih besar dari pada yang cost untuk membangun banjir kanal timur.

Mungkin inilah tipikal bangsa Indonesia, salah satu kelemahan kita sebagai bangsa Indonesia. Kita berusaha mengobati kanker dengan obat sakit kepala. Memang sakit kepalanya hilang, tapi proven damage nya belum hilang. Kita melihat suatu solusi sangat mahal, sehingga kita berusaha menjustifikasi sebuah instant solution sebagai one drug cures all. Para pakar sudah memberikan solusi permasalahan, cuman kita bukan nya menjalankan solusi itu, namun malah berusaha mencari pakar-pakar lain yang bisa memberikan “solusi” yang lebih murah.

Coba liat contoh bola beton untuk lumpur lapindo, ahli-ahli drilling sudah mengatakan kalau solusi tercepat dan terbaik adalah dengan kita membangun relief well, walaupun memang drill rig itu cost nya sampai 200K USD/day. Cuman kita berusaha atasi dengan bola beton ? kita akhirnya di giring untuk mengikuti rencana “awal” untuk accept ini sebagai perintah dari Yang Maha Esa, dan menutup mata akan penderitaan nyaris 30 ribu orang.


Coba liet dengan kemacetan Jakarta yang nyaris never ending nightmare. Kita tahu, bahwa mass transportation lah yang kita butuhkan, bukan nya pembangunan besar-besaran jalan tol. Namun tetep saja, kita memaksakan ini. Kita endure cost yang tak terhitung setiap hari untuk menelan kesalahan kebijakan transportasi ini.

Sampai pada satu titik, aku berpikir kalau kita ini bukan menggantungkan diri pada perencanaan yang matang dan eksekusi yang tepat, namun kita menggantungkan diri pada keberuntungan dan lapangnya hati orang Indonesia dalam menerima cobaan .

In my opinion

Akhirnya setelah nyaris 2 minggu dalam kondisi hiatus, gue mulai naek ke gigi 1, yah udah mulai kerja dikit2 (dikit banget).

Anyhow…enuff for the work stuff, sekarang waktu nya pikirkan weekend. Soalnya Juni, temen lama dari batam, hendak datang sore ini. Plan nya sih cumin mau muter2 doang di daerah bukit bintang malamnya, terus di ikutin oleh berputer-puter di daerah Genting Highland ke esokan hari nya. Selain nyobain theme park nya ( ada yg bilang bagus, ada yang bilang bagusan dufan), ada rencana juga untuk nyobain casino nya. Ada regulation memang, malay moslem gak bisa masuk ke sana, cuman kan kita orang-orang indon, jadi nya di luar dari peraturan (hope so ).


Pengen cerita dikit soal KL.
Yang pasti nya, menyebut soal KL, tanpa involve kota2 sekitar nya adalah kesalahan besar. Karena yang aku pahamin disini tuh system kota satelit itu bener-bener jalan. Dan tidak seperti Jakarta yang kota satelit nya hanya berfungsi sebagai tempat orang tidur, di KL sering sekali orang juga bekerja di kota satelit tersebut. Contoh gampang nya yah kantor gue ini.
Cuman disini, kayanya jangkauan untuk public transportation masih kurang, sehingga orang-orang secara langsung di drive untuk memilki kendaraan. Dan dgn harga mobil yg sama dengan Jakarta, namun penghasilan per kapita orang2 Malaysia lebih besar dari per kapita Indonesia, akibatnya orang-orang di sini jadi membeli mobil. Melihat motor di jadikan kendaraan untuk commuting masih jarang gue lihat disini, lagian kalau gue juga pemilik motor, melihat jarak tempuh yang lumayan (yg brarti bakal pegel tuh pantat ), opsi untuk memiliki mobil menjadi pilihan utama.

Dan satu hal yang gue ampe sekarang belum dapat fix way to determine adalah, bagaimana mencari taksi yang mau argometer. Menggunakan argometer itu, menghabiskan cost sekitar 15-18RM max, dari kantor ke apartment, sekarang tanpa argo itu bisa 30-40 RM. Jadi terus terang bingung juga, masa kota sudah semaju gini, tapi taksi masih model di batam. Dengan keinginan untuk membuat Malaysia menjadi salah atraksi terbesar di asia, factor taksi mesti mendapat perhatian utama dari KL town council.