
Sering dulu aku kalau melihat kawan-kawan yang bekerja di Luar negri, berpikir, wah betapa enak nya mereka. Gaji tinggi, fasilitas banyak, hidup di luar negeri. Dengan kondisi Negara Indonesia yang masih ajrut- ajrutan gak jelas gini, kehidupan di luar negeri tentunya lebih indah ke timbang di Jakarta .
Kondisi penggajian di Jakarta (yang notabene adalah pusat dari segala kegiatan bisnis), secara rata-rata, hanya cukup untuk kehidupan sehari-hari. Mungkin sekedar kendaraan (mobil), sudah bisa di dapatkan oleh orang yg telah 4-5 tahun bekerja, namun untuk tempat tinggal, mungkin yang 20 tahun bekerja pun belum mampu untuk mencari tempat tinggal yang ada di kota ataupun di lokasi yang cukup layak, dan tidak menyebabkan stress harian karena jauhnya dan macetnya tempat tinggal dengan lokasi tempat bekerja.
So dengan iming-iming gaji yang besar (jauh lebih besar ketimbang di Indo), impian untuk menjadi TKI pun membuncah di setiap sarjana di Indonesia . Yah mungkin tidak untuk selama nya jadi TKI, namun cukup lama untuk mampu membeli akomodasi yang layak etc.
Rumput tetangga selalu lebih hijau ketimbang rumput sendiri.
Pepatah ini terasa banget benarnya, setelah aku menjadi seorang TKI, di 2 negeri yang berbeda. Ada beberapa hal yang terasa banget perbedaan nya.
- Makanan : bagi orang Indo yang sudah terbiasa dengan masakan mamak yang berbumbu banyak, siap-siaplah kecewa dengan masakan di negeri orang. Makanan di luar, walaupun namanya sama dengan di Indonesia , bentuk nya pun sama dengan di Indonesia , namun memiliki rasa yang amat berbeda. Sepertinya ada beberapa bumbu yang di hilangin dari masakan. Dan jangan salahkan kalau koki nya pelit atau apa, karena sebagian besar orang luar memang menganggap masakan Indonesia itu terlalu spicy.
- kehidupan social. Mungkin ini termasuk yang terberat yang di hadapi oleh orang Indonesia yang bekerja di luar negeri. Kita orang Indonesia sudah sangat terbiasa dengan kondisi kekeluargaan yang tinggi, teman-teman yang banyak, jalan bareng atau pun makan bareng di luar, sekarang tiba-tiba mesti berhadapan dengan kondisi 180 derajat terbalik, dimana kita nyaris tak punya teman diluar lingkungan kantor. Dimana hidup bisa dibilang adalah repetisi yang jelas,
- sakit!!!. Ini baru terasa ama aku belakangan ini. Weekend gue spent dengan berbaring di tempat tidur di apartment gue, sendirian, gak ada yang ngerawat. Untuk nyari makan pun susah, karena jarang yang menimbulkan selera. Sempet kepikiran untuk pulang ajah ke Jakarta , toh walau disana penghasilan ku hanya pas-pasan saja, namun paling tidak aku kalau sakit ada yang ngerawat. Terkadang terdengar manja, cuman, kalau mau ke dokter ajah, bingung nerjemahin arti nya kesemutan, atau kesulitan menceritakan elo sakit apa ke dokter ?