
Udah beberapa kali aku ngobrol tentang topik ini baek kepada aster atau rekan-rekan laen. Cuman belum sempet menuangkan nya dalam bentuk tulisan.
Hal ini baru timbul dari benak ku pada saat aku bekerja di offshore construction batam, berawal dari obrolan-obrolan sore bersama rekan engineer sekantor. Ngobrol ngalor ngidul, akhirnya kita sampai ke topik masalah latar belakang keluarga masing-masing. Dari situ aku tahu kalau cuman satu rekan yang keluarga nya tidak pernah mampu beli mobil. Sisanya berasal dari keluarga yang cukup mampu. Rekan-rekan engineer ini mayoritas lulusan ITB, dan hanya dengan ngobrol-ngobrol dengan mereka kita bisa realise kalau mereka memang cerdas.
Semakin lama kerja di batam, semakin aku kenal dalam dan makin banyak rekan-rekan engineer disana, makin aku tahu, yang orang tua nya sampai gak mampu beli mobil hanya 2 orang dari sekian puluh engineer yang bekerja disana. Sisanya lumayan mampu malahan ada yang ke kantor bawa land cruiser bokap nya.
Gue kemudian beranjak pindah ke jakarta dan kalau ngobrol dengan aster, dia terkadang bercerita mengenai teman-teman kantornya. Aster yang bekerja di sebuah bank besar asing, suka menceritakan tentang teman-teman kantor serating nya baru pertama kali bekerja namun sudah corolla vioz pemberian bokapnya ke kantor,atau yang teman-teman kantornya yang S2 luarnegeri atau teman nya yang barusan pulang liburan dari belanda.
Dari sekian temannya, sepertinya sedikit sekali yang pulang pergi kantor naek bus atau metromini(aster pernah masuk jajaran bus minded).
Dan sedikit sekali cerita, tentang teman-teman kantornya yang mesti sangat berhemat-hemat sekali karena gajinya sangat sedikit berhubung posisinya memang rendah (padahal S1 juga loh).
Beralih kekantor gue sendiri, sebuah perusahaan offshore construction, setelah satu tahun aku baru tahu ternyata kantor ku sedikit lebih merakyat kondisi pegawainya daripada kantor aster. Cuman satu orang yang keluarga benar-benar susah, sampai dia gak mampu sekolah S1, cuman karena anak nya cerdas, dia dengan pendidikan SMA nya bisa menduduki level yang biasanya jatah anak D3 bahkan sekarang dia di sekolahkan oleh kantorku ke UI.Sebut saja namanya Riana.
Sering kita baca atau dengar kisah-kisah keberhasilan seperti Riana. Seorang supir jadi direktur lah, atau seorang tukang sapu jadi pedagang sukses lah. Cerita orang miskin yang berubah menjadi orang kaya.
CUman yang aku tanya seberapa sering kita melihat hal ini ??. Lebih sering aku melihat orang yang bekerja 20 tahun jadi officeboy karena pendidikan nya SMP saja, atau malahan yang lebih sering lagi, ketemu lulusan S1 yang narik taksi.
Pendidikan sering di gembar-gemborkan sebagai jalan keluar dari kemiskinan. Tinggal belajar baek-baek, cari nilai setinggi-tingginya, biar nanti lulus bisa dapat gaji gede.
Hanya sering di lupakan, kalau untuk belajar baek-baek, elo perlu :
1. Bersekolah di tempat yang bagus.
Gue inget awal-awal pelajaran bahasa inggris di SMP gue dulu,SMP Santa Maria, adalah masa yang paling menyiksa. Satu kelas yang nyaris semua lulusan SD Santa Maria, sudah belajar bahasa inggris dari kelas 4 SD, sementara gue yang lulusan SDN 17 Inpres, baru kali itu ketemu yang namanya bahasa inggris. I felt like an chimpanze among speaking english human.
2. Untuk belajar baek-baek, elo perlu dong beli buku atau penunjang pelajaran laen.
Sekarang kayanya udah trend deh, anak sekolah begitu gak mampu bayar uang sekolah, langsung siap-siap ngambil tali n gantung diri. Dulu sih kaget baca berita gitu, sekarang mah, kayanya gue udah gak kaget.
Kebayang, gimana mau masuk universitas kalau ikutan bimbel ajah kagak ?
Kalau sekarang di ITB di adakan sensus di antara mahasiswa barunya, gue yakin berat kalau hampir 100% itu ikutan bimbel.
Dan kalau pun seseorang bisa menempuh S1, baek itu kuliah dengan duit sendiri atau bekerja, masih ada satu rintangan lagi untuk mencapai pencapaian akhir. Sebuah karir idaman dengan gaji berjuta-juta.
Rintangan itu bernama kecerdasan elo sendiri. Mari tidak bertengkar soal EQ atau IQ, tapi mari lah kita lihat kecerdasan apa sih yang di cari oleh perusahaan-perusahan besar.
Untuk bekerja dengan gaji idaman,oh ternyata upaya untuk lulus S1 tidak cukup. pendidikan kita di anggap tidak cukup. Ternyata elo juga mesti cerdas, karena elo bersaing dengan orang laen yang juga cerdas. Perusahaan tentu mencari yang paling cocok kan ?
Jadi kemanakah orang-orang yang tidak sekolah atau gagal sekolah. Inilah mengisi posisi-posisi marginal, pekerjaan-pekerjaan seperti supir taksi,penyapu jalanan, penjaga toko dll. Dari kecil mereka hidup pas-pasan, dan selulusnya mereka dari SMA pun hidup tetep pas-pasan, tiada beda dengan orangtuanya yang gak lulus SMP.
Untuk meresapi tulisan gue, ada baiknya cobalah bertanya-tanya tentang keadaan kantor elo. Berapa banyak dari rekan kantor elo yang memang orangtuanya miskin banget ? Adakah sampai 50 % dari isi kantor elo berasal dari orang tua yang miskin?.
Idiom pendidikan jalan keluar dari kemiskinan, agaknya harus di perbarui menjadi :
Pendidikan adalah cara supaya anak orang mampu tetap bisa tumbuh menjadi orang mampu.