Saturday, June 02, 2007

Solution ??


Beberapa hari yang lalu, aku dan 2 orang temen lagi, berbincang di kanal dunia maya, Yahoo Messenger. Ngobrol ngalor ngidul, seorang temen bercerita kalau dia sedang menangani proyek sumur resapan untuk penanggulangan banjir di Jakarta. Terus terang aku mungkin mendapat salah pengertian, atau temen ku yang salah nerangin, beginilah kutipan dari bagaimana cara bekerja nya ini sumur resapan>

“ Bor lubang dengan kedalaman 1 meter, dengan diameter sekitar 20cm, usahakan lubang bor berada di daerah tempat sampah daun2an. Tutupin lubang dengan sampah dedaunan, sehingga binatang-binatang dalam tanah (semut), akan menggunakan nya sebagai tempat tinggal (karena gembur). Kemudian dengan pengadaan lubang bor yang banyak, semut2 ini akan membuat lorong2 dibawah tanah mengkoneksi kan satu lubang bor dengan lubang bor yang laen, sehingga, secara tidak langsung sebuah jalur pipa bawah tanah yg tembus air, dapat tercipta. Hal ini akan menjadi kan nya sebagai penanggulangan banjir secara murah dan terpadu.
Sebagai tambahan, dimana akhirnya jalur-jalur pipa bawah tanah ini akan berakhir, akan di tentukan sendiri oleh kondisi alam “.

My first reaction was “ ehhh ??”.

Semua engineering sense gue mengatakan this thing won’t work. Kalau dikatakan, bahwa sumur-sumur ini hanya sebagai resapan, aku bisa terima, secara logis, penyebab banjir karena run off dari air hujan tidak mampu di akomodasi oleh saluran penyalur yang ada dan menyebabkan akhirnya air tersebar dimana2 atau fenomena yang kita kenal dengan banjir.

Namun expetasi kalau semut akan dig an underground tunnel for us, somehow it seem too absurd bagi gue. Bukan hanya Jakarta yang menghadapi fenomena banjir di kota nya, tetapi hampir seluruh kota di dunia menghadapi nya. Dan ada 2 solusi general yang mereka lakukan adalah, mengurangin volume air yang run off ke saluran banjir dan memperbaiki kondisi saluran banjir. Dan kalau orang awam mengatakan ada nya fenomena banjir 5tahunan, ilmu hydroteknik juga mencetuskan fenomena ini. Bahwa ada cycle banjir (yg sayangnya belum mampu kita prediksi tepatnya), namun skala dari banjir ini akan membesar sesuai dgn siklusnya (say banjir 5thn > dari banjir 1 thn), sehingga sering di kota besar di Negara laen, kita lihat kalau saluran banjir nya gede banget, sedangkan air nya cetek banget.


Yang lebih edan-edanan bisa di lihat KL atau NY, dua-dua nya membuat underground tunnel, karena ongkos pembebasan tanah sangat mahal ketimbang mesti membuat terowongan bawah tanah.

Nah untuk Jakarta sendiri, solusi menurut gue sih sudah sangat disadarin oleh para punggawa negeri ini. Perbaiki daerah resapan di hulu dan perbaikin system saluran banjir yang ada di kota. Soal cost ?. yah memang besar, cuman di timbang dari cost yang mesti di tanggung tiap tahun atau mungkin tiap ada nya banjir, cost ini bisa di bilang lebih kecil. Memang cost untuk kerugian banjir yang kelihatan di dalam anggaran belanja mungkin tidak sebesar cost untuk menyelesaikan Banjir Kanal timur. Cuman hidden cost yang di tanggung masyarakat, dari terhenti bisnis, korban jiwa, biaya social yg mesti di tanggung, jauh lebih besar dari pada yang cost untuk membangun banjir kanal timur.

Mungkin inilah tipikal bangsa Indonesia, salah satu kelemahan kita sebagai bangsa Indonesia. Kita berusaha mengobati kanker dengan obat sakit kepala. Memang sakit kepalanya hilang, tapi proven damage nya belum hilang. Kita melihat suatu solusi sangat mahal, sehingga kita berusaha menjustifikasi sebuah instant solution sebagai one drug cures all. Para pakar sudah memberikan solusi permasalahan, cuman kita bukan nya menjalankan solusi itu, namun malah berusaha mencari pakar-pakar lain yang bisa memberikan “solusi” yang lebih murah.

Coba liat contoh bola beton untuk lumpur lapindo, ahli-ahli drilling sudah mengatakan kalau solusi tercepat dan terbaik adalah dengan kita membangun relief well, walaupun memang drill rig itu cost nya sampai 200K USD/day. Cuman kita berusaha atasi dengan bola beton ? kita akhirnya di giring untuk mengikuti rencana “awal” untuk accept ini sebagai perintah dari Yang Maha Esa, dan menutup mata akan penderitaan nyaris 30 ribu orang.


Coba liet dengan kemacetan Jakarta yang nyaris never ending nightmare. Kita tahu, bahwa mass transportation lah yang kita butuhkan, bukan nya pembangunan besar-besaran jalan tol. Namun tetep saja, kita memaksakan ini. Kita endure cost yang tak terhitung setiap hari untuk menelan kesalahan kebijakan transportasi ini.

Sampai pada satu titik, aku berpikir kalau kita ini bukan menggantungkan diri pada perencanaan yang matang dan eksekusi yang tepat, namun kita menggantungkan diri pada keberuntungan dan lapangnya hati orang Indonesia dalam menerima cobaan .

No comments: