Kenalkan aku, umur 18 tahun dan baru lulus dari SMUN di pekanbaru. Setelah hidup hampir 13 tahun di pekanbaru, aku injakkan kaki ku di bumi jawa.
Menempuh UMPTN dengan hanya satu pilihan (TEKNIK SIPIL), soalnya hanya tahu teknik sipil dan teknik mesin pas di pekanbaru, ambil back up kuliah swasta pun TEKNIK SIPIL.
Masa sedih gak lulus UMPTN berlalu, pendadaran di dunia sipil pun ku masuki. Ku pikir, ini lah dunia ku nanti setelah lulus. Di cuci otak terus dengan para senior, gambar-gambar gedung megah yg sering di lihat, sampai judul-judul mata kuliah yang nama nya pasti seperti nama alient di tipi-tipi (coba dengar : Analisa Struktur Dengan Matrix, Beton Prategang, Analisa Finite Element)…sampai nama-nama mata kuliah yang seakan-akan mengatakan “kuliah ini kuliah sulit, tapi begitu keluar kau bisa kerjakan yg di ajarkan”..namanya benar2 bombastis. Misalnya rekayasa lapangan terbang, Pelabuhan, Rekayasa Pondasi.
Tentu nya yg ku ceritakan di atas, adalah mata kuliah senior-senior ku, yang telah 4-5 tahun kuliah, yang sudah di tempa dengan mata kuliah-mata kuliah yang jauh lebih sulit ketimbang Matematika pas di SMA. Dengan status cuman semester 1, aku harus berpuas untuk mendapatkan mata kuliah menggambar rekayasa dan Kalkulus 1.
Terkadang ku telpon, si Lia, incaran hati ku yang sekarang kuliah di IPB. Kita bercerita kuliah apa saja yang di ambil dan betapa beda cara belajar masa kuliah sama masa waktu kita di SMA. Sedikit aku berbombastis soal kuliah ku, Lia kuliah di kampus ternama, IPB, seantero Indonesia kenal dengan kampus ini. Sedangkan kampus ku, di kenal se antero Bandung…sampai sekarang pun ayah suka bilang sama orang, kalau aku kuliah di UNPAD, teknik sipil. Aduh salah persepsi dia.
Gertakan jiwa muda ku rasa menggoda di kampus, wahai gagah betul senior-senior itu dengan rambut sepanjang bahu, baju kucel, dan sebatang rokok A-Mild menempel dengan mantap di bibir. Ini sipil kata mereka, tak pantas kita berpakaian rapi, karena kita ini calon orang lapangan. Makin mantap lagi, di ciptakan pula lagu buat kami meninggikan sipil merendahkan jurusan laen….wah makin cinta rasa nya aku di sipil. Ini sipil, kami termasuk manusia-manusia pilihan karena kemampuan otak kami sudah membedakan kami sama manusia jurusan laen.
Mulailah ku sisihkan uang dari mamak yang 300 ribu sebulan itu, untuk membeli A-Mild. Wah rasanya, di terima betul bercakap-cakap dengan teman-teman, sambil merokok. Rasa nya dewasa betul dan jantan.
Ku telpon Lia, dia bercerita kalau orang-orang kampus itu jauh lebih pintar dari yang pernah kami temui di SMA. Wah benar, aku dan lia ini termasuk top 5 waktu sma, dan pas kuliah rasanya banyak betul orang yang lebih pintar dari kita. Entah bagaimana belajar nya, atau memang kualitas otak dari manusia jawa jauh lebih mumpuni dari kami otak yang dibesarkan di pekanbaru.
Yang paling jelas terasa, masa awal kuliah masa menentukan pilihan. Dulu di SMA, aku les bareng dengan Lia sepulang kuliah, atau bermobil seputar kota dengan kawan-kawan. Sedangkan di bandung menjadi angkot maniac..kemana pun naek angkot. Yang jelas duit menjadi masalah utama, pengen ketemuan ama Lia, cuman uang nya tidak cukup. Dulu kawan-kawanku di SMA, ada manusia-manusia yang menunaikan printah orang tua, untuk rajin belajar. Sekarang sepertinya, kawan ku di kuliah adalah anak-anak rantau seperti ku.
Dan tentunya yang menang, adalah yang paling cepat menjangkau, yaitu anak-anak yang juga tercuci otak oleh himpunan. Kegiatan ku pun mulai terisi dengan kegiatan bersama-sama dengan mereka. Ada saja yang diberikan oleh himpunan sehingga hari-hari pun sibuk dengan kegiatan/ penugasan mereka. Aku pun mulai sering lupa menelpon Lia.
Hari itu, hampir 6 bulan aku di tanah bandung, ku telpon Lia, sekalian minta maaf….sudah 2 bulan dia tak hubungi. Jawaban yg kuterima menyesakkan dada…dia bilang, kita harus mulai tahu arah melangkah, di ceritakan nya keterlibatan nya dengan suatu organisasi religi, yang membuat mata nya terbuka jelas, akan kemana hubungan tidak jelas kami.
5 tahun kemudian, rasa sebal telah hilang, dan aku pun akhirnya mengerti kalau Lia pun mengalami gejolak masa muda seperti ku.
No comments:
Post a Comment