Awalnya sih, rencana ke tempat ini gara-gara tergoda cerita seorang teman, bagaimana tempat ini alami...menikmati pemandangan di sepanjang garis sungai, di akhir oleh di ngeliat curahan air di staglatit ( ini bener gak sih nulis nya).
Maka bersama dengan 3 orang sepupu gue, berangkat juga lah kami ke tempat ini.
Dengan membayar 70 ribu di pintu masuk, kita bisa menyewa sebuah perahu bersama 2 orang guide nya. Perjalanan 20 menit menembus arus sungai, terasa sangat singkat karena mata seakan tidak lelah-lelah nya melihat-lihat keadaan sekeliling yang hijau dan alami.
Perjalanan dengan perahu ini berakhir pabila air mulai tercurah dari atap batu yang menaungi perjalan di sungai. Dan batu besar menghadang di jalan.
Kebetulan sepupu gue, adalah narsis yang menggemari foto diri sendiri, makanya batu-batuan di sana pun menjadi korban sebagai latar belakang mereka berfoto.
Tergoda dengan tawaran guide, untuk trekking menjelajahi sungai lebih ke hulu, tanpa ada rasa malu (plus emang cuman kita doang yang ada di sana pas saat itu), semua pakaian pun dilepas, tinggal sehelai celana dalam dan baju pelampung, dan bertelanjang kaki akhirnya kami memutuskan untuk memulai penjelajahan.
Perjalanan di mulai dengan berenang melawan arus (yang gak kencang sama sekali), menuju batu terdekat, kemudian mendaki batu-batuan tersebut. Berhubung gue sama sekali gak ada bakat untuk olah tubuh, plus batu-batu yang cukup licin, maka perjalan terasa cukup menyulitkan. Mungkin lain kali kesana, sepatu karet bakalan menjadi temen yang setia untuk membuat kita merasa lebih stabil dalam menapaki batuan.
makin jauh ke dalam, perjalanan makin sulit, ada batuan yang sampai miring 70 derajat namun pijakan untuk memanjat makin sulit di raih, sampai akhirnya aku terkadang memutuskan untuk nyebur di air, walaupun terkadang sulit untuk melawan arus.
Setengah perjalanan, yang terpikir hanyalah, gimana nanti kembali nya, sedangkan berangkat sajah susah banget. Namun, daripada di tinggalin ama yang laen ( yes, u r right, gue emang di barisan terakhir), terpaksa otot kaki yang mulai bergetar di lupakan. Cuman pemandangan yang didapat emang fantastis, setiap kali berhasil melewati satu rintangan, kemudian berdiri sejenak, menghirup udara segar, mata di arahkan ke tebing yang menjulang 30 meter, energi seakan terisi kembali.
Akhirnya setelah trekking selama 1 jam, dan setengah kilometer ( yeah..yeah...sulit lho...susah beneran).., kita (aka gue) minta ampun ama guide sekalian minta di antarin pulang. ternyata pulangnya ada jalur yang gampang gitu, yang kita cuman gak nyampe 10 menit sudah tiba di titik awal penjelajahan... sigh...
No comments:
Post a Comment