Monday, January 22, 2007

Sayang Anak ?


Seiring berpindahnya gue ke ibukota 3 tahun yang lalu, sedikit demi sedikit gaya hidup ibukota yang hedonis pun mengalir merasuki jiwa gue..(hah!). Salah satu lifestyle ibukota yang gue jalanin adalah, clubbing alias dugem. Dari awal nya keinginantahuan berubah menjadi kebiasaan, gue biasa clubbing di kota manapun gue berada (kecuali emang gak ada tempat clubbingnya).
Terkadang, kalau lagi terbengong pada saat clubbing, mata pun sering berkeliaran bebas, merekam fenomena-fenomena yang unik (baca: cewe cakep), menggugah (baca:cewe cakep) dan menarik (baca: cewe cakep lagi).
Satu fenomena yang tertangkap, di tengah dentuman speaker yang segede dosa, jam berdentang menunjukkan jam 12malam, asap rokok mengepul, ada seorang anak kecil yang terkadang berumur kurang dari 5 tahun, sedang berada di diskotik. Biasanya anak-anak ini, kalau tidak mata menunjukkan rasa kantuk, sering nya malah mata berpijar karena melihat tontonan baru, atau mungkin heran mengapa banyak orang-orang dewasa bergerak dalam gerak yang sama sekali gak harmonis dan gak beraturan.

Tidak mau berpikiran buruk dan sebagai seorang engineer sejati, yang bergerak dari fakta kemudian ke kemungkinan-kemungkinan, dan di akhiri oleh deduksi :

a. Mumpung lagi ladies night, toh gak ada batasan umur ini
b. mungkin siang nya, tempat clubbing ini adalah daycare centre untuk balita, nah anak kecil ini, mungkin anak yang lupa di jemput ama orang tua nya
c. mungkin tulisan pakar2 selama ini dikoran telah terbukti, kalau pola hidup kebarat-baratan telah meracuni anak-anak muda kita. atau mungkin para pakar salah, pola hidup kebarat-baratan itu sudah meracuni balita-balita kita.



Satu kali seorang temen dan suami nya, bergabung dengan grup clubbing gue, setelah mereka berbelanja di carrefour. Selain membawa berkantong-kantong plastik dan sapu, mereka juga membawa anak mereka yang baru berumur 3 tahun. Akhir pertanyaan gue bisa di jawab langsung oleh sang pelaku utama.
" Gini man, gue tuh ketemuan ama anak gue tuh cukup jarang,dengan berangkat pagi dan pulang malam, jarang banget gue bisa berkumpul dimana anak gue masih bangun, lagian sayang juga mereka dia di tinggalin di rumah kalau gue mau dugem. Biar dah punya anak, gue kan masih punya kebutuhan dan keinginan untuk dugem".

Sunday, January 21, 2007

Green Canyon


Awalnya sih, rencana ke tempat ini gara-gara tergoda cerita seorang teman, bagaimana tempat ini alami...menikmati pemandangan di sepanjang garis sungai, di akhir oleh di ngeliat curahan air di staglatit ( ini bener gak sih nulis nya).

Maka bersama dengan 3 orang sepupu gue, berangkat juga lah kami ke tempat ini.
Dengan membayar 70 ribu di pintu masuk, kita bisa menyewa sebuah perahu bersama 2 orang guide nya. Perjalanan 20 menit menembus arus sungai, terasa sangat singkat karena mata seakan tidak lelah-lelah nya melihat-lihat keadaan sekeliling yang hijau dan alami.
Perjalanan dengan perahu ini berakhir pabila air mulai tercurah dari atap batu yang menaungi perjalan di sungai. Dan batu besar menghadang di jalan.
Kebetulan sepupu gue, adalah narsis yang menggemari foto diri sendiri, makanya batu-batuan di sana pun menjadi korban sebagai latar belakang mereka berfoto.

Tergoda dengan tawaran guide, untuk trekking menjelajahi sungai lebih ke hulu, tanpa ada rasa malu (plus emang cuman kita doang yang ada di sana pas saat itu), semua pakaian pun dilepas, tinggal sehelai celana dalam dan baju pelampung, dan bertelanjang kaki akhirnya kami memutuskan untuk memulai penjelajahan.

Perjalanan di mulai dengan berenang melawan arus (yang gak kencang sama sekali), menuju batu terdekat, kemudian mendaki batu-batuan tersebut. Berhubung gue sama sekali gak ada bakat untuk olah tubuh, plus batu-batu yang cukup licin, maka perjalan terasa cukup menyulitkan. Mungkin lain kali kesana, sepatu karet bakalan menjadi temen yang setia untuk membuat kita merasa lebih stabil dalam menapaki batuan.

makin jauh ke dalam, perjalanan makin sulit, ada batuan yang sampai miring 70 derajat namun pijakan untuk memanjat makin sulit di raih, sampai akhirnya aku terkadang memutuskan untuk nyebur di air, walaupun terkadang sulit untuk melawan arus.

Setengah perjalanan, yang terpikir hanyalah, gimana nanti kembali nya, sedangkan berangkat sajah susah banget. Namun, daripada di tinggalin ama yang laen ( yes, u r right, gue emang di barisan terakhir), terpaksa otot kaki yang mulai bergetar di lupakan. Cuman pemandangan yang didapat emang fantastis, setiap kali berhasil melewati satu rintangan, kemudian berdiri sejenak, menghirup udara segar, mata di arahkan ke tebing yang menjulang 30 meter, energi seakan terisi kembali.

Akhirnya setelah trekking selama 1 jam, dan setengah kilometer ( yeah..yeah...sulit lho...susah beneran).., kita (aka gue) minta ampun ama guide sekalian minta di antarin pulang. ternyata pulangnya ada jalur yang gampang gitu, yang kita cuman gak nyampe 10 menit sudah tiba di titik awal penjelajahan... sigh...



Friday, January 19, 2007

Bakso Bakar

Terus terang sih, bakso bukan merupakan makanan favorit gue. Walau bakso bisa di bilang makanan terpopuler di indonesia dibuktikan ada nya gerobak bakso dari Metropolitan Jakarta ampe desa tengah gunung (pernah ketemuan pas gue lagi di lapangan cing), bakso tetep gak merupakan makanan favorit gue...
Suatu saat, email dari seorang sahabat mengundang untuk datang ke kota malang, dan gue baru tahu kalo si sahabat ini ternyata penggemar berat bakso.
Nah cuman kali ini, dia ngajak gue ke bakso yang model laen.... Bakso bakar. Hmmm, kenapa gak ada yang pernah kepikiran ya.
Aku kebetulan di ajak ke Bakso Trowulan ( di deket ABM), dimana menurut gue ( sebagai orang yang gak terlalu demen bakso), proses nya cukup unik :

1. Mesen ama mas-mas nya tipe bakso bakar yang di inginkan. Ada bakso kasar dan halus ( kasar lebih susah di kunyah), berapa buah yang kita inginkan dan jenis bumbu yang kita inginkan ( pilihan cuman bumbu pedes dan bumbu biasa). Begitu kita selesai merancang tipe bakso bakar yang kita inginkan, si mas-masnya bakal mulai mempersiapkan si abkso bakar.

2. Kita mengarah ke meja bakso. Disana kita diminta menyiapkan sendiri, berapa bakso rebus dan atau tahu rebus yang kita inginkan bersamaan dengan jumlah mie yang kita pilih. Baru ngambil kuah bakso dari panci besar yang terus menerus mengepulkan asap dan aroma bakso rebus....Hmmm., ide unik di satu sisi kita ngerasa enak bisa milih2 keinginan sendiri di satu sisi si penjual bakso menghemat tenaga kerja untuk menyiapkan bakso rebus untuk pelanggan nya.

3. Mulai menyantap sang bakso rebus, dimana begitu kita selesai, sang bakso bakar pun sudah siap dan siap di kunyah...voala..
Makan!!