Sore itu, matahari masih berona kuning terang dan langit pun membuncahkan warna biru muda yang tenang. Sebuah sore yang tenang, dimana gue dan seorang teman dari Malaysia, sedang menghirup teh tarik yang nikmat, di sebuah kafe di Bandara Labuan, Sabah Malaysia.
Kami berdua barusan melakukan site visit di sebuah Terminal Gas, dan selagi menunggu keberangkatan pesawat, kami pun menghirup kopi dan ngobrol ngalor ngidul. Awal pembicaraan yang cuman soal kerjaan menjadi melebar kemana-mana.
Sang kawan bercerita kalau di Malaysia, sekarang sedang heboh tentang penarikan 5 merek teh celup yang populer dari pasaran, karena badan POM (Pengawasan Obat & Makanan) Malaysia menemukan bahwa kalori yang terkandung dalam teh celup itu melebihi takaran kalori yang di cantumkan pada bungkusan nya.
Sang kawan juga, mengungkapkan kekhawatirannya, karena dia sekeluarga, merupakan penggemar minuman teh. Ibaratnya, tiada hari tanpa teh.
Gue langsung tersenyum saja mendengar kekhawatiran sang teman.
Tambahan kalori di teh ???
Akhirnya gue cerita juga lah, kalau di indonesia sedang heboh tentang formalin dan bakso tikus. Dimana POM indonesia menemukan kalau banyak produsen tahu, ayam, ikan dan bakso memakai formalin ( yang padahal adalah pengawet mayat.... mayat bouw) untuk mengawetkan bahan-bahan makanan tadi. Jangan di tanya deh soal racun yang di kandung, kan formalin untuk mayat kok,malah di pakai untuk orang.
Belum lagi daging tikus ( tikus got gitu sih... hueeeek) yang dipake untuk ngebuat bakso....
Sang temen malaysia pun kaget-kaget denger cerita gue. Dengan tersenyum simpul, dia akhirnya mengatakan, betapa kecilnya masalah extra kalori di teh yang heboh di malaysia, ketimbang formalin di indonesia
I guess, mungkin inilah pepatah lain padang lain belalang apply.....
torehan ku di dunia maya, menjadi corong untuk meneriakkan pemikiran ku dalam untaian kata-kata
Thursday, January 19, 2006
Thursday, January 05, 2006
Thai a wonderful place to travel
Tulisan ini sebagai summary of my travel in thailand........
Terus terang gue kagum dengan thailand. Mereka bener-bener serius dalam mengurus masalah turisme. Dengan kunjungan 8 juta turis setahun, asumsi satu orang menghabiskan 1000 dolar, maka minimal devisa 8 Billion dollar thailand raih setiap tahunnya.
Orang-orang thai pun ramah terhadap pendatang-pendatang, senyum dan ucapan sawasdee (selamat datang), sering terucap terhadapku.
Informasi-informasi tentang thai turisme juga gampang di dapat. Berhubung gue gak mau beli guide tour gitu, namun informasi-informasi mengenai turisme di internet dengan sangat gampang di dapat. Tapi gue sih saranin kalau mending kita bawa guide book gitu, aku sendiri di pinjemin buku guide tur oleh si Darwid.
Kalau hostel sendiri sih walau kita tidur ama orang-orang yang tidak kita kenal, menurut gue cukup aman, cuman kita mesti ngambil tindakan-tindakan pencegahan sendiri. Semua barang-barang berharga gue, selalu gue bawa dalam tas kecil gue.
Pilihan wisata sendiri sangat banyak di thailand, dari putihnya pasir pantai, kealamian hutan-hutan utara thailand hingga kehidupan suku-suku pegunungan di thailand. Untuk berbelanja pun, sangat banyak pilihan. Tinggal di daerah Silom road di bangkok, ternyata memberi banyak keuntungan karena ada nya pasar yang 24 jam.
Mejadi seorang pengelana sendiri seperti gue lakukan, memberi banyak keuntungan. Gue bisa pergi ketempat manapun yang gue mau dengan waktu yang diatur sesuka gue sendiri. Vacation time table yang gue buat sebelum gue pergi, memang banyak membantu, sehingga gue sudah tahu apa yang hendak gue lakukan hari itu, ataupun esoknya. Time table yang gue buat juga menunjukkan cara-cara yang gue butuhkan untuk mencapai suatu tempat tujuan, sekaligus harga dan jadwal transportasi umumnya.
Tidak enaknya menjadi pengelana adalah gue terkadang merasa kesepian, butuh temen bicara. Untung novel-novel yang gue baca cukup membantu untuk menghabiskan waktu. Buku-buku ini sendiri aku beli di toko-toko buku bekas yang cukup banyak bertebaran di pusat-pusat keramaian kota. Sangat murah, cuman sekitar 40an rebu.
Godaan untuk melanjutkan perjalanan ke laos atau burma, dengan pantai-pantai nya yang masih perawan juga sangat menggoda pada saat gue di chiangmai, cuman sayang karena gue udah terikat dengan jadwal gue, akhirnya terpaksa gue tetep ikut dengan rencana gue. Mungkin rencana berikut gue adalah mengunjungi china dengan keindahan dan kealamian alamnya.
Mungkin ada yang bertanya,kenapa gue gak travel aja keliling indonesia, toh masih banyak tempat-tempat menarik yang belum pernah gue kunjungin. Aku sih pingin ingatin, kalau perjalanan bukan saja melihat-lihat tempat-tempat wisata yang menarik, cuman juga berinteraksi dengan kehidupan setempat juga sangat menarik. Melihat bagaimana orang-orang hidup di bagian dunia yang berbeda dengan kita, dengan segala keunikannya dan mungkin kekacauannya.
Gue sendiri sangat tertarik menyusuri lorong-lorong pemukiman padat di bangkok, yang walaupun rumah-rumahnya terlihat sederhana namun jalannya terlihat cukup bersih. Gue juga melihat jajaran salon-salon di lorong-lorong jalan yang uniknya, banyak turis-turis barat yang mengunjungi. Hal-hal ini adalah sesuatu yang gak bisa kita dapat dengan ikutan tour ataupun muter-muter di indonesia.
Seorang ibu yang suka jalan-jalan keliling dunia, bercerita bahwa pengalaman adalah satu-satunya kekayaan yang elo bisa bawa keliang kubur.
Salam ya... see u in my next blog.
Terus terang gue kagum dengan thailand. Mereka bener-bener serius dalam mengurus masalah turisme. Dengan kunjungan 8 juta turis setahun, asumsi satu orang menghabiskan 1000 dolar, maka minimal devisa 8 Billion dollar thailand raih setiap tahunnya.
Orang-orang thai pun ramah terhadap pendatang-pendatang, senyum dan ucapan sawasdee (selamat datang), sering terucap terhadapku.
Informasi-informasi tentang thai turisme juga gampang di dapat. Berhubung gue gak mau beli guide tour gitu, namun informasi-informasi mengenai turisme di internet dengan sangat gampang di dapat. Tapi gue sih saranin kalau mending kita bawa guide book gitu, aku sendiri di pinjemin buku guide tur oleh si Darwid.
Kalau hostel sendiri sih walau kita tidur ama orang-orang yang tidak kita kenal, menurut gue cukup aman, cuman kita mesti ngambil tindakan-tindakan pencegahan sendiri. Semua barang-barang berharga gue, selalu gue bawa dalam tas kecil gue.
Pilihan wisata sendiri sangat banyak di thailand, dari putihnya pasir pantai, kealamian hutan-hutan utara thailand hingga kehidupan suku-suku pegunungan di thailand. Untuk berbelanja pun, sangat banyak pilihan. Tinggal di daerah Silom road di bangkok, ternyata memberi banyak keuntungan karena ada nya pasar yang 24 jam.
Mejadi seorang pengelana sendiri seperti gue lakukan, memberi banyak keuntungan. Gue bisa pergi ketempat manapun yang gue mau dengan waktu yang diatur sesuka gue sendiri. Vacation time table yang gue buat sebelum gue pergi, memang banyak membantu, sehingga gue sudah tahu apa yang hendak gue lakukan hari itu, ataupun esoknya. Time table yang gue buat juga menunjukkan cara-cara yang gue butuhkan untuk mencapai suatu tempat tujuan, sekaligus harga dan jadwal transportasi umumnya.
Tidak enaknya menjadi pengelana adalah gue terkadang merasa kesepian, butuh temen bicara. Untung novel-novel yang gue baca cukup membantu untuk menghabiskan waktu. Buku-buku ini sendiri aku beli di toko-toko buku bekas yang cukup banyak bertebaran di pusat-pusat keramaian kota. Sangat murah, cuman sekitar 40an rebu.
Godaan untuk melanjutkan perjalanan ke laos atau burma, dengan pantai-pantai nya yang masih perawan juga sangat menggoda pada saat gue di chiangmai, cuman sayang karena gue udah terikat dengan jadwal gue, akhirnya terpaksa gue tetep ikut dengan rencana gue. Mungkin rencana berikut gue adalah mengunjungi china dengan keindahan dan kealamian alamnya.
Mungkin ada yang bertanya,kenapa gue gak travel aja keliling indonesia, toh masih banyak tempat-tempat menarik yang belum pernah gue kunjungin. Aku sih pingin ingatin, kalau perjalanan bukan saja melihat-lihat tempat-tempat wisata yang menarik, cuman juga berinteraksi dengan kehidupan setempat juga sangat menarik. Melihat bagaimana orang-orang hidup di bagian dunia yang berbeda dengan kita, dengan segala keunikannya dan mungkin kekacauannya.
Gue sendiri sangat tertarik menyusuri lorong-lorong pemukiman padat di bangkok, yang walaupun rumah-rumahnya terlihat sederhana namun jalannya terlihat cukup bersih. Gue juga melihat jajaran salon-salon di lorong-lorong jalan yang uniknya, banyak turis-turis barat yang mengunjungi. Hal-hal ini adalah sesuatu yang gak bisa kita dapat dengan ikutan tour ataupun muter-muter di indonesia.
Seorang ibu yang suka jalan-jalan keliling dunia, bercerita bahwa pengalaman adalah satu-satunya kekayaan yang elo bisa bawa keliang kubur.
Salam ya... see u in my next blog.
Ini ada tulisan yang tercecer mengenai my 1st day in thai... waktu itu gagal di load...
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Udah 2 hari nih di Thailand gue. Kesan pertama ... betah !!.
Di Bandara Don Muang, bagasi gue gak di cek sama sekali, terus petugas imigrasi nya ramah pula, walaupun gue keliatan banget turis kere.
Dengan mengeluarkan uang 100 B ( sekitar 25 rebu) untuk airport bus, gue tiba di Hostel Thailand, tempat menginap gue selama ini. Kamarnya kecil, cuman 3x4 m, kamar mandi di luar dan di dalamnya ada 6 tempat tidur. Gue sih fine-fine ajah, sampai ngerasain kasurnya yang tipis dan keras banget. Jadi kangen ama spring bed gue yang empuk banget di kos.
Anyhoo, gue jauh-jauh kesini bukan untuk tidur, so no problem deh.
Kelar beres-beres, gue langsung jalan-jalan wandering bangkok. Target pertama : Chao Praya River ( atau River of Kings). Gue beli tiket 10 trip seharga 250 baht, untuk menaiki Sky Train.
Bangkok kotanya bersih loh, belum setanding singapura tapi yang pasti gak mirip ama jakarta. Sky train nya juga lumayan, kapan ya jakarta kaya gini. Tiba di sungai chao praya, wah gede , ada kali 300 meter lebarnya. terus, disini sungai bener-bener jalur transportasi. Perahu-perahu gitu, berkitaran di mana-mana. Bukan hanya turis, tapi dari pekerja sampai anak sekolah pun memakai nya.
Malamnya.. ya pulang dong... kan mesti setia, jadi jalan ke patpong (please find out about this place on the internet....) yang cuman 5 menit dari hostel gue.
Hari kedua, gue ke pattaya. Naik bus Bangkok- Pattaya senilai 110 Baht (27 rebu gitu). Tiba di pantai nya, gue langsung sadar, gue datang di musim yang salah. Angin bertiup kenceng dan dingin gitu.
Pantai nya sendiri lumayan panjang, sekitar 4 kilometer. Pattaya terbagi atas 2 pantai, pattaya & jumtien beach. Pantai nya gak terlalu lebar, cuman 5 meteran, cuman di pinggirannya di bangun jalur jalan yang enak dan teduh gitu. Terus, di pantai nya sendiri kita bisa duduk-duduk di kursi pantai yang enak gitu. Cuman mesti beli jualan nya yang punya kursi. Murah, satu kelapa gitu seharga 40 baht, atau 10 rebu rupiah.
Gue agak telat tiba di pattaya, gue ketinggalan trip ke coral island. Katanya bagus banget tempat itu. Tapi gapapa deh, toh trip muter-muter kotanya cukup oke.
Di pinggir pantainya, banyak banget bar-bar gitu, ada sedikit shopping mall juga. Terus ada jalan yang namanya Walking Street, itu jualan nya macam-macam. Dari baju ampe suvenir2 khas thailand, yang menggoda mata bener-bener banyak. Terus, di satu bar ada kumpulan waria-waria gitu. Gue awalnya ngelotok gitu matanya kesana, ngeliet cw pakaian nya mini gitu, di tengah siang bolong, cuman begitu dia ngomong..... adyuuuuuhhh...
Oh iya, gue jalan-jalan di sini make songthaew, sebenarnya kaya pick up yang di kasih kursi ama terpal. Nyaman juga.
Sebenernya, gue pengen ngeliet juga nite life di pattaya, cuman gue pengen nonton kabaret waria plus bus terakhir ke bangkok itu jam 9 malam.
Jadi pilihannya tinggal nonton kabaret waria, gue dapat tiket seharga 500 baht di alcazar.
Kabaretnya lumayan , waria-waria sumpah deh cakep bener-bener. Mana badannya mulus seksi gitu, gak ada bekas-bekas bukti keberadaannya sebagai cowok. Kabaretnya ada macam-macam jenis gitu, ada nyanyian-nyanyian juga dari berbagai negara. Ada nyanyian jepang, nyanyian legenda ular putih dari china, lagu-lagu korea dan yang gak ketinggalan.... lagu dangdut dari indonesia....
Buset dah, jauh-jauh gue ke thailand, dengernya lagu dangdut juga. Gue rasa peterpan atau gigi, mesti tunduk ngaku kalah ama penyanyi dangdut.
PS:
1. Gue memang gak mirip ama orang thailand
2. Orang thailand, gak bisa bahasa inggris. Gue kalau nanya2 mesti pake bahasa tarzan gitu...
3. Tulisan thai dan ucapannya di sini berbeda... Hal ini membuat gue, mesti jalan kaki 30 menit menggotong back pack gue yang berat nya naujubilah gara-gara turun di halte bus yang salah....
4. Makanan murah ... dengan uang 10 rebu elo udah bisa makan enak.
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Udah 2 hari nih di Thailand gue. Kesan pertama ... betah !!.
Di Bandara Don Muang, bagasi gue gak di cek sama sekali, terus petugas imigrasi nya ramah pula, walaupun gue keliatan banget turis kere.
Dengan mengeluarkan uang 100 B ( sekitar 25 rebu) untuk airport bus, gue tiba di Hostel Thailand, tempat menginap gue selama ini. Kamarnya kecil, cuman 3x4 m, kamar mandi di luar dan di dalamnya ada 6 tempat tidur. Gue sih fine-fine ajah, sampai ngerasain kasurnya yang tipis dan keras banget. Jadi kangen ama spring bed gue yang empuk banget di kos.
Anyhoo, gue jauh-jauh kesini bukan untuk tidur, so no problem deh.
Kelar beres-beres, gue langsung jalan-jalan wandering bangkok. Target pertama : Chao Praya River ( atau River of Kings). Gue beli tiket 10 trip seharga 250 baht, untuk menaiki Sky Train.
Bangkok kotanya bersih loh, belum setanding singapura tapi yang pasti gak mirip ama jakarta. Sky train nya juga lumayan, kapan ya jakarta kaya gini. Tiba di sungai chao praya, wah gede , ada kali 300 meter lebarnya. terus, disini sungai bener-bener jalur transportasi. Perahu-perahu gitu, berkitaran di mana-mana. Bukan hanya turis, tapi dari pekerja sampai anak sekolah pun memakai nya.
Malamnya.. ya pulang dong... kan mesti setia, jadi jalan ke patpong (please find out about this place on the internet....) yang cuman 5 menit dari hostel gue.
Hari kedua, gue ke pattaya. Naik bus Bangkok- Pattaya senilai 110 Baht (27 rebu gitu). Tiba di pantai nya, gue langsung sadar, gue datang di musim yang salah. Angin bertiup kenceng dan dingin gitu.
Pantai nya sendiri lumayan panjang, sekitar 4 kilometer. Pattaya terbagi atas 2 pantai, pattaya & jumtien beach. Pantai nya gak terlalu lebar, cuman 5 meteran, cuman di pinggirannya di bangun jalur jalan yang enak dan teduh gitu. Terus, di pantai nya sendiri kita bisa duduk-duduk di kursi pantai yang enak gitu. Cuman mesti beli jualan nya yang punya kursi. Murah, satu kelapa gitu seharga 40 baht, atau 10 rebu rupiah.
Gue agak telat tiba di pattaya, gue ketinggalan trip ke coral island. Katanya bagus banget tempat itu. Tapi gapapa deh, toh trip muter-muter kotanya cukup oke.
Di pinggir pantainya, banyak banget bar-bar gitu, ada sedikit shopping mall juga. Terus ada jalan yang namanya Walking Street, itu jualan nya macam-macam. Dari baju ampe suvenir2 khas thailand, yang menggoda mata bener-bener banyak. Terus, di satu bar ada kumpulan waria-waria gitu. Gue awalnya ngelotok gitu matanya kesana, ngeliet cw pakaian nya mini gitu, di tengah siang bolong, cuman begitu dia ngomong..... adyuuuuuhhh...
Oh iya, gue jalan-jalan di sini make songthaew, sebenarnya kaya pick up yang di kasih kursi ama terpal. Nyaman juga.
Sebenernya, gue pengen ngeliet juga nite life di pattaya, cuman gue pengen nonton kabaret waria plus bus terakhir ke bangkok itu jam 9 malam.
Jadi pilihannya tinggal nonton kabaret waria, gue dapat tiket seharga 500 baht di alcazar.
Kabaretnya lumayan , waria-waria sumpah deh cakep bener-bener. Mana badannya mulus seksi gitu, gak ada bekas-bekas bukti keberadaannya sebagai cowok. Kabaretnya ada macam-macam jenis gitu, ada nyanyian-nyanyian juga dari berbagai negara. Ada nyanyian jepang, nyanyian legenda ular putih dari china, lagu-lagu korea dan yang gak ketinggalan.... lagu dangdut dari indonesia....
Buset dah, jauh-jauh gue ke thailand, dengernya lagu dangdut juga. Gue rasa peterpan atau gigi, mesti tunduk ngaku kalah ama penyanyi dangdut.
PS:
1. Gue memang gak mirip ama orang thailand
2. Orang thailand, gak bisa bahasa inggris. Gue kalau nanya2 mesti pake bahasa tarzan gitu...
3. Tulisan thai dan ucapannya di sini berbeda... Hal ini membuat gue, mesti jalan kaki 30 menit menggotong back pack gue yang berat nya naujubilah gara-gara turun di halte bus yang salah....
4. Makanan murah ... dengan uang 10 rebu elo udah bisa makan enak.
Day 7 Ayutaya.
Setelah menempuh perjalanan 10 jam yang tidak menyenangkan dengan bus, gue tiba di bangkok jam 5.30 pagi. Bus nya bener-bener gak enak, gue gak bisa tidur dengan nyaman. AC nya cuman jalan sekitar 4 jam, kemudian mati dan yang paling gak tahan adalah suara orkestra besi ketemu besi yang bunyi terus tiap 10 menit. Bus ini harusnya udah gak boleh jalan lagi deh.
Males untuk nawar-nawar lagi ama tuktuk, akhirnya gue pun memutuskan naek taksi dari tempat perhentian bus di bangkok. Untung banget gue memilih untuk tidur di hotel di malam terakhir gue di bangkok, karena akhirnya gue ketemu lagi dengan spring bed yang empuk banget, gue pun tertidur barang2 2 jam sebelum akhirnya gue pun bersiap-siap untuk berangkat ke ayutaya.
KEtimbang menunggu 1.5 jam untuk ngedapatin tiket KA murah, akhirnya gue ambil ajah tiket kereta yang agak mahal ( 200 baht) menuju ayutaya. KA sendiri ber AC, dengan tempat duduk kaya KA parahyangan bisnis gitu. Setiba di ayutaya dan menyebrang sungai, gue pun menyewa sepeda dari tempat penyewaan terdekat. Setelah mengecek kondisi rem-rem sepeda, tiga keping uang 10 Baht pun gue kasih ke cici pemilik sepeda untuk menyewa si sepeda.
Kota ayutaya sendiri adalah kota yang penuh sejarah. Terhitung sebagai ibukota kedua Thai Kingdom, setelah sukhothai, sebelum akhirnya pindah ke bangkok, kota ayutaya mencapai kejayaan nya pada abad-abad ke 18. Pada masa-masa itu, berbagai macam bangsa, mulai dari perancis, portugis dan laen-laennya, pada berdatangan ke ayutaya untuk berdagang. Bahkan cabai yang sekarang jadi bumbu utama masakan orang thailand pun, diperkenalkan oleh bangsa portugis kepada bangsa thai, buah tangan mereka dari benua amerika.
Sebagai ibukota, ayutaya di bentengin oleh kanal selebar 20 meter yang terdapat di 4 sisi kota, kanal ini merupakan modifikasi dari sungai chao praya. Namun tetep saja kejayaan kota ayutaya hancur pada abad ke 19, tatkala serbuan bangsa burma meluluh lantakkan kota ini. Ibukota thai Kingdom pun, terpaksa di pindahkan lagi lebih ke selatan, kota yang sekarang di kenal dengan kota Bangkok.
Reruntuhan ayutaya sendiri cukup menarik, dengan sisa bangunan yang terbuat dari bata merah yang menyusun kota. Tidak banyak bangunan tinggi menjulang karena kebanyakan sudah di hancurkan oleh kebakaran pada saat serbuan orang-orang burma. Oh iya, berhubung gue cuman sendirian dan foto-foto gue kurang banyak, akhirnya gue betul-betul memaksimalkan self potraitnya.
Sepulang dari bersepeda seharian ( btw, capek euy), gue akhirnya pulang dengan kereta lagi ke bangkok. Kali ini gue dapat tiket seharga 20 baht, sangat murah euy, cuman terbayar karena gue memang dapat tiket ekonomi yang tempat duduk pun gue gak dapat.
Keesokan harinya, gue puasin dengan tidur-tiduran di hotel ( maklum hotelnya bayarnya mahal), kemudian akhirnya bersiap-siap untuk pulang ke Singapur.
Males untuk nawar-nawar lagi ama tuktuk, akhirnya gue pun memutuskan naek taksi dari tempat perhentian bus di bangkok. Untung banget gue memilih untuk tidur di hotel di malam terakhir gue di bangkok, karena akhirnya gue ketemu lagi dengan spring bed yang empuk banget, gue pun tertidur barang2 2 jam sebelum akhirnya gue pun bersiap-siap untuk berangkat ke ayutaya.
KEtimbang menunggu 1.5 jam untuk ngedapatin tiket KA murah, akhirnya gue ambil ajah tiket kereta yang agak mahal ( 200 baht) menuju ayutaya. KA sendiri ber AC, dengan tempat duduk kaya KA parahyangan bisnis gitu. Setiba di ayutaya dan menyebrang sungai, gue pun menyewa sepeda dari tempat penyewaan terdekat. Setelah mengecek kondisi rem-rem sepeda, tiga keping uang 10 Baht pun gue kasih ke cici pemilik sepeda untuk menyewa si sepeda.
Kota ayutaya sendiri adalah kota yang penuh sejarah. Terhitung sebagai ibukota kedua Thai Kingdom, setelah sukhothai, sebelum akhirnya pindah ke bangkok, kota ayutaya mencapai kejayaan nya pada abad-abad ke 18. Pada masa-masa itu, berbagai macam bangsa, mulai dari perancis, portugis dan laen-laennya, pada berdatangan ke ayutaya untuk berdagang. Bahkan cabai yang sekarang jadi bumbu utama masakan orang thailand pun, diperkenalkan oleh bangsa portugis kepada bangsa thai, buah tangan mereka dari benua amerika.
Sebagai ibukota, ayutaya di bentengin oleh kanal selebar 20 meter yang terdapat di 4 sisi kota, kanal ini merupakan modifikasi dari sungai chao praya. Namun tetep saja kejayaan kota ayutaya hancur pada abad ke 19, tatkala serbuan bangsa burma meluluh lantakkan kota ini. Ibukota thai Kingdom pun, terpaksa di pindahkan lagi lebih ke selatan, kota yang sekarang di kenal dengan kota Bangkok.
Reruntuhan ayutaya sendiri cukup menarik, dengan sisa bangunan yang terbuat dari bata merah yang menyusun kota. Tidak banyak bangunan tinggi menjulang karena kebanyakan sudah di hancurkan oleh kebakaran pada saat serbuan orang-orang burma. Oh iya, berhubung gue cuman sendirian dan foto-foto gue kurang banyak, akhirnya gue betul-betul memaksimalkan self potraitnya.
Sepulang dari bersepeda seharian ( btw, capek euy), gue akhirnya pulang dengan kereta lagi ke bangkok. Kali ini gue dapat tiket seharga 20 baht, sangat murah euy, cuman terbayar karena gue memang dapat tiket ekonomi yang tempat duduk pun gue gak dapat.
Keesokan harinya, gue puasin dengan tidur-tiduran di hotel ( maklum hotelnya bayarnya mahal), kemudian akhirnya bersiap-siap untuk pulang ke Singapur.
Day 6 Doi Sui Thep
Pagi berhubung gue gak ada rencana selain mengunjungin Doi Sui Thep, akhirnya gue putusin untuk sedikit malas-malasan di hostel, menikmatin tidur yang lebih lama. Jam menunjukkan pukul 11 pagi, pada saat gue udah siap untuk jalan-jalan lagi.
Gue pun segera menyetop songthaew dan menyebut arah tujuan gue " chiang mai zoo", dari chiangmai zoo inilah baru ada songthaew laen yang menuju Doi Suithep.
Doi Suithep sendiri berhubung hari minggu, jadi rame banget di kunjungi oleh orang thailand sendiri. Sekali lagi menggunakan kemiripan tampang dengan orang thailand, gue pun masuk berlenggang kangkung dengan asiknya tanpa bayar tiket masuk.
Oh iya, salah sih sebenarnya berlenggang kangkung, soalnya masuk ke Doi Suithep ini kita mesti naek tangga, yang anak tangga sampai 400an gitu (pokoknya gue ampe berkali-kali deh istirahat pas naek tangga ini).
Doi Suithep kalau gak salah didirikan tahun 1700an gitu, oleh salah seorang Raja di Lanna Kingdom. Menurut hikayatnya, sebuah tulang budha yang di bawa dari india tiba di chiangmai, kemudian raja membawa tulang tersebut di atas punggung seekor gajah. Lokasi dimana sang gajah berhenti, di situ lah di bangun Kuil yang sekarang dikenal dengan Doi Suithep.
Doi Suthep sendiri terletak di puncak perbukitan Doi Suithep national park, terlihat agung tinggi seakan menjaga kota chiangmai dari kejauhan. Dari kuil Doi Suithep sendiri, kota chiangmai yang sedang tertutup kabut tipis, terlihat jelas.
Setelah 3 jam berada di Doi Suthep, berkeliling dan singgah sebentar menikmati waffle nikmat di kafe di kawasan doi suthep, gue pun pulang.
Pukul menunjukkan jam 7 malam pada saat jemputan gue untuk balik ke bangkok tiba di hostel. Selamat tinggal chiangmai................
Gue pun segera menyetop songthaew dan menyebut arah tujuan gue " chiang mai zoo", dari chiangmai zoo inilah baru ada songthaew laen yang menuju Doi Suithep.
Doi Suithep sendiri berhubung hari minggu, jadi rame banget di kunjungi oleh orang thailand sendiri. Sekali lagi menggunakan kemiripan tampang dengan orang thailand, gue pun masuk berlenggang kangkung dengan asiknya tanpa bayar tiket masuk.
Oh iya, salah sih sebenarnya berlenggang kangkung, soalnya masuk ke Doi Suithep ini kita mesti naek tangga, yang anak tangga sampai 400an gitu (pokoknya gue ampe berkali-kali deh istirahat pas naek tangga ini).
Doi Suithep kalau gak salah didirikan tahun 1700an gitu, oleh salah seorang Raja di Lanna Kingdom. Menurut hikayatnya, sebuah tulang budha yang di bawa dari india tiba di chiangmai, kemudian raja membawa tulang tersebut di atas punggung seekor gajah. Lokasi dimana sang gajah berhenti, di situ lah di bangun Kuil yang sekarang dikenal dengan Doi Suithep.
Doi Suthep sendiri terletak di puncak perbukitan Doi Suithep national park, terlihat agung tinggi seakan menjaga kota chiangmai dari kejauhan. Dari kuil Doi Suithep sendiri, kota chiangmai yang sedang tertutup kabut tipis, terlihat jelas.
Setelah 3 jam berada di Doi Suthep, berkeliling dan singgah sebentar menikmati waffle nikmat di kafe di kawasan doi suthep, gue pun pulang.
Pukul menunjukkan jam 7 malam pada saat jemputan gue untuk balik ke bangkok tiba di hostel. Selamat tinggal chiangmai................
Day 5 Exploring Foot of Doi Inthanon
Pagi ke 5 di thailand, seperti biasa udara tetep saja dingin, sehingga AC cuman nganggur ajah. Selesai berdandan ria, gue pun sarapan roti dan scramble egg di hostel, lumayan untuk ganjal perut.Hari ini tour package yang gue ambil meliputi acara naek gajah, ngeliet2 mae ho waterfall dan naek rakit bambu selama sejam berlokasi di Doi Intahnon.
Pukul 9.30 pagi,minibus tour gue datang dan di dalam personnel tur sudah lengkap, ada sepasang chinesse australia dan pasangan muda mudi thai-swiss. Persinggahan pertama kita adalah tempat naek gajah. Awalnya gue agak serem juga naeknya, soalnya gue liet sangat gampang jatuh tuh dari kursi di atas gajah, ternyata begitu gue naek ada pengamannya berupa besi melintang kaya kalau kita naek roller coaster gitu. Disini kami sesama rombongan tur pu saling bertukar kamera supaya kita bisa saling berfoto pas kita lagi di atas Gajah. Di tempat yang sama juga di jual 4 sisir pisang ambon gitu seharga 20 Baht yang bisa kita gunakan untuk ngasih makan si Gajah, atau kalau mau makan sendiri juga boleh-boleh aja kok. Gak usah susah ngasih makan si Gajah, karena dia bakalan menjulurkan sendiri belalai nya ke deket kursi kita minta makan.
Gue sendiri duduk berdua ama seorang mahasiswa Korea yang berkeras kalau dia mau nya di panggil dengan nama Mister Kim, buset dah gaya banget nih anak. Kita ngobrol bentar, sehingga gue tahu kalau si Mr. Kim ini sedang mengambil kuliah di Bidang Hukum karena dia bercita-cita untuk menjadi seorang Polisi. Oh, dia juga bakalan kerja sukarela menjadi guru bahasa inggris selama 2 minggu di Chiang Rai. Ampe kaget deh gue dengernya, ya ampun nih anak bahasa inggris nya jelek gini bisa jadi guru ?, tapi anyway, kayanya asik juga ya bisa jadi pekerja sukarelawan gini, plus bisa liburan juga.
Asik banget nih naek gajah, kita naek turun bukit gitu, terus juga masuk kedalam sungai. Rasanya jadi bos banget nih kalau naek gajah sambil menjelajah hutan, soalnya si gajah kan gede banget sementara kita melihat jauh ke bawah, semuanya serasa aman-aman saja. Oh, soal pisang 20 baht yang gue beli, akhirnya gue dan mr.kim menggunakan itu pisang untuk mengarahkan si gajah untuk jalan ke tempat yang kita mau dengan cara melemparkan pisang ke tempat yang kita tuju. Ini kita berdua bisa lakukan, karena si pawang gajah kita malahan asik ngerokok-rokok ajah sambil jalan kaki di depan ketimbang menaikin gajah seperti pawang-pawang gajah laennya.
Selesai naek gajah ( bener-bener sejam sih, cuman rasanya bentar banget), kita pun singgah makan di warung makan pinggir jalan gitu. Lauk telor dadar dan buah2an yang di jadiin sayur, terasa segar banget menghilangkan rasa lapar.Kita pun kemudian berangkat ke pemberhentian kedua, pemukiman suku Karen Phalong.
Di pemukiman suku Karen Phalong ini, terpancing oleh si cewek thai yang ikut rombongan tur juga, yang bilang harga disini cukup murah, akhirnnya gue beli juga deh satu syal warna merah muda gitu untuk aster. Buatan nya memang tidak terlalu halus, namun ini asli buatan suku karen.
Si tur guide kemudian cerita kalau kita bakalan jalan kaki selama 1.5 jam di temenin oleh 2 guide orang Karen (which cant speak english at all). Gue agak serem juga mesti jalan kaki 2 jam nembusin hutan gitu, soalnya gak yakin ama fisik gue. Ternyata gue mampu tuh ngelakuin nya. Ditengah jalan, kami ketemu rombongan sapi gitu, terus karena salah satu cina australia gak mau jalan ngelewatin mereka, akhirnya kita ada nunggu barang2 setengah jam, untuk menjelaskan sama si guide kalau sapi-sapi itu mesti di usir dulu dan akhirnya lama juga untuk ngusir si rombongan sapi.
Satu jam perjalanan, akhirnya kita tiba di Mae Sha waterfall. Kecil euy, biasa ajah pula.
Setengah jam jalan kaki pun kita tempuh untuk menuju tempat penjemputan oleh minibus tur.
Seusai jalan kaki ini, kita di ajak ke sungai Mae Sha, untuk naek rakit bambu. Di rakitnya sendiri, gue bertiga dengan sepasang cina australi itu dan seorang remaja yang kayanya gak sampai 15 tahun umurnya yang jadi kapten kapal kita.
Ada tempat duduk sih di sana, cuman kita bertiga memilih untuk berdiri ajah sepanjang jalan ( utamanya sih kita gak mau celana kita basah). Gue sendiri memilih untuk nyeker ajah, ketimbang mesti ngebasahin dan merusah sepatu gue (kan mahal nih sepatu). Di tengah perjalanan kita ketemu dengan banyak rombongan muda mudi thailand yang juga lagi menikmati liburan (maklum hari sabtu). Asik juga nih, mereka pada bawa gitar gitu, terus bawa bekal makanan sendiri. Cuman yang gak asiknya, mereka nyetir sendiri rakit bambu nya, yang walaupun terlihat gampang namun ketahuan mereka gak bisa soalnya, rakit-rakit mereka pada melintang di tengah sungai gara-gara mereka gak bisa mengontrol jalannya si rakit.
Tiada perjalanan tanpa akhir, dan setelah 1 jam naek rakit, kita pun tiba di tempat tujuan, dan 2 jam kemudian, gue pun tiba di kota chiangmai lagi.
Malam Natal
Orang-orang pada gereja, dan gue gak tahu dimana gereja di chiangmai, akhirnya gue putusin untuk jalan-jalan lagi di nite market. Gak nyangka di sini gue ketemuan ama 2 cw british yang gue ketemu di bus pas mau ke chiangmai. Gue tegur ampe 2 kali, namun mereka gak kenal gue ampe menggoyang2 kan tangan menolak kehadiran gue. Sebel juga.
Anyhoo, kangen ama yayang gue, akhirnya gue telpon lah dia dan mamak di batam dan tante2 gue laennya.
Gue kemudian pergi ke Riverside pub, pub ini terkenal banget ampe di sarankan kalau ke chiangmai mesti ke pub ini. Memang sih, pub nya kecil banget, namun band yang maen bener-bener bagus. Minuman disini juga murah, sebotol Singha Beer (bir khas thailand), cuman seharga 20 rebu.
Oh terus ada hal yang gue perhatiin disini, kalau orang thailand itu biasa membawa sendiri dari rumah wisky atau rum mereka. Nah pas tiba di pub mereka baru minta soda water utk di campur dengan wisky. Mungkin untuk lebih hemat kali ya.
Jadi inget dengan cerita temen di singapur, kalau mereka itu biasanya minum-minum dulu di apartemen salah seorang temen, baru kemudian melanjutkan perjalanan ke pub. Sehingga di pub mereka cuman paling minum 1 atau 2 gelas sajah.
Malam makin dingin, pukul 12 malam, gue pun pulang ke hostel gue.
Btw, sebenarnya ada bar juga deket hostel gue, namanya "His Club". Cuman setelah ngelirik-lirik dan melihat gak seorang pun cewek yang ada di dalam sana, dan konfirmasi pegawai hostel, gue sadar kalau pub itu pub khusus untuk gay........
Pukul 9.30 pagi,minibus tour gue datang dan di dalam personnel tur sudah lengkap, ada sepasang chinesse australia dan pasangan muda mudi thai-swiss. Persinggahan pertama kita adalah tempat naek gajah. Awalnya gue agak serem juga naeknya, soalnya gue liet sangat gampang jatuh tuh dari kursi di atas gajah, ternyata begitu gue naek ada pengamannya berupa besi melintang kaya kalau kita naek roller coaster gitu. Disini kami sesama rombongan tur pu saling bertukar kamera supaya kita bisa saling berfoto pas kita lagi di atas Gajah. Di tempat yang sama juga di jual 4 sisir pisang ambon gitu seharga 20 Baht yang bisa kita gunakan untuk ngasih makan si Gajah, atau kalau mau makan sendiri juga boleh-boleh aja kok. Gak usah susah ngasih makan si Gajah, karena dia bakalan menjulurkan sendiri belalai nya ke deket kursi kita minta makan.
Gue sendiri duduk berdua ama seorang mahasiswa Korea yang berkeras kalau dia mau nya di panggil dengan nama Mister Kim, buset dah gaya banget nih anak. Kita ngobrol bentar, sehingga gue tahu kalau si Mr. Kim ini sedang mengambil kuliah di Bidang Hukum karena dia bercita-cita untuk menjadi seorang Polisi. Oh, dia juga bakalan kerja sukarela menjadi guru bahasa inggris selama 2 minggu di Chiang Rai. Ampe kaget deh gue dengernya, ya ampun nih anak bahasa inggris nya jelek gini bisa jadi guru ?, tapi anyway, kayanya asik juga ya bisa jadi pekerja sukarelawan gini, plus bisa liburan juga.
Asik banget nih naek gajah, kita naek turun bukit gitu, terus juga masuk kedalam sungai. Rasanya jadi bos banget nih kalau naek gajah sambil menjelajah hutan, soalnya si gajah kan gede banget sementara kita melihat jauh ke bawah, semuanya serasa aman-aman saja. Oh, soal pisang 20 baht yang gue beli, akhirnya gue dan mr.kim menggunakan itu pisang untuk mengarahkan si gajah untuk jalan ke tempat yang kita mau dengan cara melemparkan pisang ke tempat yang kita tuju. Ini kita berdua bisa lakukan, karena si pawang gajah kita malahan asik ngerokok-rokok ajah sambil jalan kaki di depan ketimbang menaikin gajah seperti pawang-pawang gajah laennya.
Selesai naek gajah ( bener-bener sejam sih, cuman rasanya bentar banget), kita pun singgah makan di warung makan pinggir jalan gitu. Lauk telor dadar dan buah2an yang di jadiin sayur, terasa segar banget menghilangkan rasa lapar.Kita pun kemudian berangkat ke pemberhentian kedua, pemukiman suku Karen Phalong.
Di pemukiman suku Karen Phalong ini, terpancing oleh si cewek thai yang ikut rombongan tur juga, yang bilang harga disini cukup murah, akhirnnya gue beli juga deh satu syal warna merah muda gitu untuk aster. Buatan nya memang tidak terlalu halus, namun ini asli buatan suku karen.
Si tur guide kemudian cerita kalau kita bakalan jalan kaki selama 1.5 jam di temenin oleh 2 guide orang Karen (which cant speak english at all). Gue agak serem juga mesti jalan kaki 2 jam nembusin hutan gitu, soalnya gak yakin ama fisik gue. Ternyata gue mampu tuh ngelakuin nya. Ditengah jalan, kami ketemu rombongan sapi gitu, terus karena salah satu cina australia gak mau jalan ngelewatin mereka, akhirnya kita ada nunggu barang2 setengah jam, untuk menjelaskan sama si guide kalau sapi-sapi itu mesti di usir dulu dan akhirnya lama juga untuk ngusir si rombongan sapi.
Satu jam perjalanan, akhirnya kita tiba di Mae Sha waterfall. Kecil euy, biasa ajah pula.
Setengah jam jalan kaki pun kita tempuh untuk menuju tempat penjemputan oleh minibus tur.
Seusai jalan kaki ini, kita di ajak ke sungai Mae Sha, untuk naek rakit bambu. Di rakitnya sendiri, gue bertiga dengan sepasang cina australi itu dan seorang remaja yang kayanya gak sampai 15 tahun umurnya yang jadi kapten kapal kita.
Ada tempat duduk sih di sana, cuman kita bertiga memilih untuk berdiri ajah sepanjang jalan ( utamanya sih kita gak mau celana kita basah). Gue sendiri memilih untuk nyeker ajah, ketimbang mesti ngebasahin dan merusah sepatu gue (kan mahal nih sepatu). Di tengah perjalanan kita ketemu dengan banyak rombongan muda mudi thailand yang juga lagi menikmati liburan (maklum hari sabtu). Asik juga nih, mereka pada bawa gitar gitu, terus bawa bekal makanan sendiri. Cuman yang gak asiknya, mereka nyetir sendiri rakit bambu nya, yang walaupun terlihat gampang namun ketahuan mereka gak bisa soalnya, rakit-rakit mereka pada melintang di tengah sungai gara-gara mereka gak bisa mengontrol jalannya si rakit.
Tiada perjalanan tanpa akhir, dan setelah 1 jam naek rakit, kita pun tiba di tempat tujuan, dan 2 jam kemudian, gue pun tiba di kota chiangmai lagi.
Malam Natal
Orang-orang pada gereja, dan gue gak tahu dimana gereja di chiangmai, akhirnya gue putusin untuk jalan-jalan lagi di nite market. Gak nyangka di sini gue ketemuan ama 2 cw british yang gue ketemu di bus pas mau ke chiangmai. Gue tegur ampe 2 kali, namun mereka gak kenal gue ampe menggoyang2 kan tangan menolak kehadiran gue. Sebel juga.
Anyhoo, kangen ama yayang gue, akhirnya gue telpon lah dia dan mamak di batam dan tante2 gue laennya.
Gue kemudian pergi ke Riverside pub, pub ini terkenal banget ampe di sarankan kalau ke chiangmai mesti ke pub ini. Memang sih, pub nya kecil banget, namun band yang maen bener-bener bagus. Minuman disini juga murah, sebotol Singha Beer (bir khas thailand), cuman seharga 20 rebu.
Oh terus ada hal yang gue perhatiin disini, kalau orang thailand itu biasa membawa sendiri dari rumah wisky atau rum mereka. Nah pas tiba di pub mereka baru minta soda water utk di campur dengan wisky. Mungkin untuk lebih hemat kali ya.
Jadi inget dengan cerita temen di singapur, kalau mereka itu biasanya minum-minum dulu di apartemen salah seorang temen, baru kemudian melanjutkan perjalanan ke pub. Sehingga di pub mereka cuman paling minum 1 atau 2 gelas sajah.
Malam makin dingin, pukul 12 malam, gue pun pulang ke hostel gue.
Btw, sebenarnya ada bar juga deket hostel gue, namanya "His Club". Cuman setelah ngelirik-lirik dan melihat gak seorang pun cewek yang ada di dalam sana, dan konfirmasi pegawai hostel, gue sadar kalau pub itu pub khusus untuk gay........
Subscribe to:
Posts (Atom)