Setelah menempuh perjalanan 10 jam yang tidak menyenangkan dengan bus, gue tiba di bangkok jam 5.30 pagi. Bus nya bener-bener gak enak, gue gak bisa tidur dengan nyaman. AC nya cuman jalan sekitar 4 jam, kemudian mati dan yang paling gak tahan adalah suara orkestra besi ketemu besi yang bunyi terus tiap 10 menit. Bus ini harusnya udah gak boleh jalan lagi deh.
Males untuk nawar-nawar lagi ama tuktuk, akhirnya gue pun memutuskan naek taksi dari tempat perhentian bus di bangkok. Untung banget gue memilih untuk tidur di hotel di malam terakhir gue di bangkok, karena akhirnya gue ketemu lagi dengan spring bed yang empuk banget, gue pun tertidur barang2 2 jam sebelum akhirnya gue pun bersiap-siap untuk berangkat ke ayutaya.
KEtimbang menunggu 1.5 jam untuk ngedapatin tiket KA murah, akhirnya gue ambil ajah tiket kereta yang agak mahal ( 200 baht) menuju ayutaya. KA sendiri ber AC, dengan tempat duduk kaya KA parahyangan bisnis gitu. Setiba di ayutaya dan menyebrang sungai, gue pun menyewa sepeda dari tempat penyewaan terdekat. Setelah mengecek kondisi rem-rem sepeda, tiga keping uang 10 Baht pun gue kasih ke cici pemilik sepeda untuk menyewa si sepeda.
Kota ayutaya sendiri adalah kota yang penuh sejarah. Terhitung sebagai ibukota kedua Thai Kingdom, setelah sukhothai, sebelum akhirnya pindah ke bangkok, kota ayutaya mencapai kejayaan nya pada abad-abad ke 18. Pada masa-masa itu, berbagai macam bangsa, mulai dari perancis, portugis dan laen-laennya, pada berdatangan ke ayutaya untuk berdagang. Bahkan cabai yang sekarang jadi bumbu utama masakan orang thailand pun, diperkenalkan oleh bangsa portugis kepada bangsa thai, buah tangan mereka dari benua amerika.
Sebagai ibukota, ayutaya di bentengin oleh kanal selebar 20 meter yang terdapat di 4 sisi kota, kanal ini merupakan modifikasi dari sungai chao praya. Namun tetep saja kejayaan kota ayutaya hancur pada abad ke 19, tatkala serbuan bangsa burma meluluh lantakkan kota ini. Ibukota thai Kingdom pun, terpaksa di pindahkan lagi lebih ke selatan, kota yang sekarang di kenal dengan kota Bangkok.
Reruntuhan ayutaya sendiri cukup menarik, dengan sisa bangunan yang terbuat dari bata merah yang menyusun kota. Tidak banyak bangunan tinggi menjulang karena kebanyakan sudah di hancurkan oleh kebakaran pada saat serbuan orang-orang burma. Oh iya, berhubung gue cuman sendirian dan foto-foto gue kurang banyak, akhirnya gue betul-betul memaksimalkan self potraitnya.
Sepulang dari bersepeda seharian ( btw, capek euy), gue akhirnya pulang dengan kereta lagi ke bangkok. Kali ini gue dapat tiket seharga 20 baht, sangat murah euy, cuman terbayar karena gue memang dapat tiket ekonomi yang tempat duduk pun gue gak dapat.
Keesokan harinya, gue puasin dengan tidur-tiduran di hotel ( maklum hotelnya bayarnya mahal), kemudian akhirnya bersiap-siap untuk pulang ke Singapur.
No comments:
Post a Comment