Hari ke Empat... Day of Hill Tribes
Tiba di ChiangMai pukul 5.30 pagi, udara terasa begitu dingin menggigil. Tuktuk dari tour agent yang gue pakai, sudah menanti, dan sang supir tuktuk setelah gue onboard langsung memacu tuktuknya menembus dinginnya remang pagi Chiangmai.
Tiba di hostel chiangmai, gue agak kaget juga melihat kondisi kamarnya. Bener-bener jauh dari bayangan awal gue. Kamarnya yang gue bayar 120 rebu/malam, ukurannya 3x4, ada kamar mandi dalam ( dengan air panas), ada ac dan ada TV cable juga. Cuman, lagi-lagi kasurnya keras gitu, aduh jadi rindu banget ama spring bed gue di kos.
Berhubung gue tidurnya kurang pulas pas di bus, gue sempetin lah untuk tidur sejam gitu. Begitu bangun dan langsung mandi air hangat, jam telah menunjukkan pukul 07.30 pagi.
Hari ini, itinerary gue menunjukkan,kalau gue harusnya jalan-jalan ke Doi Sui Thep,cuman gue ngerubah pikiran, untuk ngambil tour ngunjungin 6 hill tribes seharga 1000 Baht.
Jam menunjukkan pukul 08.00, ketika minibus tour datang menjemput gue. Didalamnya ada sepasang suami istri Italia, terus pasangan swedia, dan yang paling sial adalah pasangan gay itali-thai ( gimana gue tahu gay ?... let say, karena mereka pegangan tangan mulu dengan mesra....huek...huek...).
Trip, pertama kita adalah orchid farm yang berjarak 30 menit diluar chiangmai. Lumayan juga tempatnya. Terus, kita ke pembuatan kertas dari elephant dung (dung = tokai). menarik juga, di tunjukkin cara pembuatan kertas nya.
Trip berikut kita menuju ke Karen-Phadong village. SUku ini yang terkenal dengan lehernya wanita-wanita mereka mereka yang panjang. Gue sempet ngerasain berat gleang-gelang besi yang nyantol di leher mereka, ternyata berat euy. ada kali 3 kilo an.
Trip berikutnya kita mengunjungi cave yang di gunakan untuk kuil budha juga. Di temukan oleh seorang monks budha sekitar 300 tahun yang lalu, kuil di cave ini bergaya burma style. Kita cuman bisa masuk sekitar 700an meter kedalam cave, karena sisanya belum diberi penerangan listrik.
Kemudian, karena di ajak oleh sang tour guide, kami pun pura-pura sembhayang di sana. sembhayang nya dengan menggoyang-goyang puluhan batang bambu yang telah dipotong kecil-kecil gitu, terus kita dengan tutup mata mengambil batang bambu, mengecek nomornya dan mengambil lembaran kertas yang cocok dengan nomor bambu itu.
Si gay itali, karena doi gak bisa baca tulisan inggris, meminta gue untuk membaca lembaran hasil doa nya. Gue gak inget lagi sih tulisan apa yang laennya, tapi yang pasti di sana tertulis kalau sebentar lagi si gay italia akan mendapat seorang bayi perempuan yang sehat.
Si gay italia langsung bengong, ampe gue mesti bacain ulang, terus akhirnya kita satu rombongan tour ampe ngakak-ngakak. Entah dari mana si gay itali ini bakal ngedapatan seorang bayi perempuan yang sehat.
Trip berikutnya, kita ngunjungin 5 hilltribes lainnya. Ada suku lisu yang adem-adem ajah, akha yang nyuekin kita, terus suku mekho yang aktif banget nawarin dagangannya ama kita ( ampe inget pengalaman di kintamani bali).
Kelima suku ini, sebenarnya suku yang nomaden, namun ama pemerintah thai mereka di urge untuk tinggal di satu tempat dan mengubah sistem kerja mereka menjadi petani yang permanennt. Banyak dari mereka yang karena gak mampu untuk bikin sawah sendiri,akhirnya cuman menjadi buruh tani dari petani-petani thailand saja.
Dalam hati, sebenarnya agak sedih juga untuk menjadi tur ke suku-suku ini menjadi agenda gue,s etelah melihat kenyataan sebenarnya. Maksudnya, bukan keunikan dari suku ini yang menjadi tontonan, karena kita sebenarnya ngeliet ke perkampungan mereka, melihat kemiskinan mereka, melihet cara hidup mereka yang sangat sederhana namun berusaha mengikuti perkembangan jaman.
Pernah kebayang gak, kalau kehidupan kita di jadikan tontonan umum, padahal itu kan hal yang sangat pribadi.
Sekarang yang terjadi adalah, karena mereka bener-benar hidup dari turisme. Turisme dengan segala dampak negatif dan positifnya, telah mengubah orang-orang ini.
Anyway, pukul 17.00 mobil tur pun tiba di chiangmai, dan gue menuju trip berikut gue ke ChiangMai nite bazaar.
Bermula sekitar 700 tahun yang lalu, chiangmai nite bazaar adalah pasar dimana orang-orang hilltribe datang untuk berjualan. pasar ini termasuk dalam jalur sutra orang-orang thai dulu, dimana orang2 india, cina dan suku-suku hilltribe datang jauh-jauh ke chiangmai untuk berdagang.
Cuman, sekarang sih nite bazaar nya sudah di ubah, dengan kebutuhan-kebutuhan turisme. Cukup menarik sih bazaarnya. Gue sendiri makan malam di anusan nite market, sebuah plaza kecil dengan food stall yang mengelilinginya. Enak dan lumayan murah sih.
Malam makin larut di chiangmai, dan udara juga makin dingin. Jam setengah sebelas malam, akhirnya aku pun pulang ke hostel chiangmai.
No comments:
Post a Comment